Tentang siapa kita dan bagaimana kita memahami diri. Itu mungkin bagian tersulit dalam hidup ini. Kadang kala sudah merasa benar dengan apa yang kita fikirkan namun tetap saja salah dipandangan orang lain. Kadang juga kita merasa serba salah, padahal bagi orang lain itu sudah sempurna. Tentu saja itu menjadi suatu masalah yang sangat berarti. Pasalnya, hal terburuk yang dilakukan oleh manusia adalah kekeliruan dalam merasa. Lantas dengan hal tersebut tentunya menjadi alasan penting mengapa kita benar-benar harus mengenal dan memahami diri sendiri yang kemudian akan membantu setidaknya untuk berdialog dengan diri sendiri ketika mengintrospeksi.
Kemudian ada beberapa bagian penting dalam kehidupan kita yang terkadang terabaikan. Ada pula yang sama sekali tidak menjadi prioritas kita padahal tersebut seharusnya menjadi prioritas utama. Contohnya Agama, banyak sekali dari sebagian kita yang menganggap Agama hanya sebagai formalitas dalam bermasyarakat. Padahal didalam agama ada begitu banyak point penting yang harus kita perhatikan dan diprioritaskan. Salah satunya didalam agama kita mendapati norma dalam berbicara, Islam contohnya :
- Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan: “Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)
- Berdasarkan ayat al-quran, Al-Hujjurat:11, juga dalam hadis Nabi Muhammad SAW: “Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)
- Sabda Nabi Muhammad SAW: “Aku jamin rumah di dasar syurga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah syurga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak syurga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)
hal diatas merupakan salah satu dari begitu banyak norma yang diatur untuk kita. Dan sungguh hal tersebut tidaklah memberatkan jika kita benar-benar membaca dan memahami isinya.
Ada timbul banyak pertanyaan salah satunya, mengapa kita harus begitu Fanatik dengan agama ?
Bukankah bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan ?
Definisi diatas menunjukkan seolah -olah seseorang yang fanatik dengan agama akan sangat sulit dalam bersosialisasi, tidak peduli dengan hal-hal yang dianggapnya bertentangan dengan apa yang dia yakini dan terkadang hal tersebut dianggap berlebihan.
Berbeda ini sungguh berbeda, stigma menganai kefanatikan seseorang haruslah pada tempatnya, bahkan Islam pun sudah mengatur bagaimana berfanatik (muslim yang taat, melaksanakan syariat Islam dalam keseharian), Agama bukanlah hal yang bisa ditawar-tawar, kita pilah-pilah sesuai keinginan. Karena seorang muslim diperintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, dikatakan menyeluruh, seluruh aspek dalam kehidupan kita itu semua didasarkan pada Islam.
Firman Allah dalam Al-Quran;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan..” (QS. Al Baqarah: 208)
Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, hendaknya mereka berpegang kepada tali Islam dan semua syariatnya serta mengamalkan semua perintahnya serta meninggalkan semua larangannya dengan segala kemampuan yang ada pada mereka. (Tafsir Ibnu Katsir)
Point fanatik Agama sudah dituntaskan, masalah kenal tidak kenal, paham tidak paham kepada diri sendiri, orang lain dan lain hal terkait kehidupan adalah masalah mau tidak maunya kita untuk mengenal, mengerti, memahami dan menjalankannya. Ada yang mereka sudah paham, sudah mengerti bahkan sangat mengenal namun mereka enggan untuk menjalankannya. Sungguh ini bukanlah panggung sandiwara, semua nyata dan memiliki konsekuensinya. Silahkan tuntaskan point-point lain yang mungkin sudah terabaikan jangan menunggu hari penyesalan itu telalu meyakitkan.
← Belajarlah Malam Belum Terlalu Larut→