Bahagia dan Bahagiakanlah

By Rahmat Syatra M - Juli 30, 2017



Bagaimana mungkin tahu tapi tidak mau. Sesungguhnya jika ada keinginan dan sedikit kelembutan hati itu bisa menjadi lebih dari sekedar meredam keidealisan.

Sore yang hangat, aku masih bermain berlarian diatas kelapangan hati sekalipun rindu memanggil mengisyaratkan untuk segera pulang, aku hanya menyapanya " Salamkan rinduku pada Ibu, Ayah dan Adikku " bukan tidak ingin pulang, tapi masih banyak bekal yang harus dicari untuk memperbaiki rumah, lantai-lantai kehormatan harus diperbaiki, atap-atap kekompakan harus diganti, tembok kesombongan juga harus diruntuhkan, masih banyak sekali rasanya tidak patut jika aku terlalu dini untuk pulang.

Disini cukup menyenangkan, menemukan berbagai corak macam sifat makhluk Allah, ada yang begitu mulia, ada yang biasa-biasa saja, ada yang lupa, ada yang sengaja untuk lupa, ada yang tidak mengenal, ada yang sedang mengenal,; atas diri dan kehidupan dan berbagai macam corak lainnya. Aku hidup dengan lantang dengan alam sebagai guruku, masalah yang membesarkanku, kesedihan yang menegarkanku, kebahagiaan yang mengingatkanku dan sungguh tidak ada kekurangan atas hidup ini.

Kemudian dengan itu aku menjadi bingung, apa yang mengeraskan hati dan kepala meraka, apa yang menopang dagu mereka hingga tidak sedikitpun santun atas etika, apa yang membuat tuli mereka hingga tidak peduli dengan petuah dan nasihat, sungguh mereka harus menghela nafas dan bertafakur. Karena introspeksi seperti sudah menjadi formalitas saja, yang ada hanya menginterupsi, selalu mencoba untuk berbeda, tidak pernah sesekali menjadi sama apalagi untuk menjadi satu. Entah apa yang menjadi sebabnya, semua makhluk pastilah memiliki egonya, hanya saja sejauh mana makhluk tersebut memiliki kontrol, ingin mengontrol atau bahkan iya yang dikontrol oleh egonya.

Sesekali aku menunduk dan sedikit tertawa mengelak atas sedihku melihat betapa kerasnya hati manusia. Rasanya ingin sekali  berbincang dengan Ibu,sosok yang begitu tenang,sosok yang begitu lembut, sekalipun marah ia tidak pernah mengerutkan dahinya kecuali saat ia khawatir atas kami. Namun ibu pasti akan bilang,

  " inilah kehidupan, kita akan melihat kelembutan dan kekerasan hati manusia, terkadang gelak tawa bisa melembutkannya, simpul senyumpun bisa melunakkannya, bahkan air mata pun bisa juga menenangkannya, atau bahkan sebalilnya, tidak perlu bingung, tidak perlu takut, itulah manusia, teruslah berusaha untuk menjadi baik, lebih seringlah mendengarkan, lebih seringlah memperhatikan, lebih seringlah bertafakur, sering-seringlah meminta maaf karena hidup dan kehidupan sangat singkat, bahagia dan bahagiakanlah . . . . ."


🔘 Bersyukurlah 🔘

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar