Tidak terasa usia semakin bertambah, banyak hal yang sudah dilalui. Baik dan buruk seharusnya sudah dapat dipahami dengan baik. Bagian-bagian dari kehidupan sudah dipilah dan dipilih serta ditempatkan pada kadarnya masing-masing. Entah berapa tahun lagi usia ini tersisa, aku berharap akan digunakan sebaik-baiknya.
Melihat keadaan yang semakin lama semakin melalahkan. Sepertinya ada yang harus kita kaji dan cermati lagi. Jika dilanjutkan seperti ini tidak akan mampu bertahan. Semua bagian dari diri ini adalah kerapuhan jika tidak dikuatkan maka akan hancur dan kehilangan diri.
Waktu, waktu adalah sesuatu hal yang utama dan sangat diperhitungkan seharusnya. Berapa yang kita miliki dan berapa yang akan kita bagi. Kita tidak selalu memiliki waktu yang banyak, kadang terbuang, kadang hilang, kadang tersimpan dan tentunya tidak dapat berulang. Bagi sebagian orang mungkin sedikit lalai, lupa atau bahkan tidak menyadari berapa banyak waktu yang ia miliki. Hanya mengikut arus dan hilang termakan waktu. Padahal dasar dari kehidupan ini adalah bagaimana kita mengenal dengan baik dan memenajemen waktu kita dengan baik.
Rasa, bagian ini adalah bagian yang paling sensitif dan bisa saja mempengaruhi waktu kita. Rasa bisa saja mebuat waktu menjadi berharga, menjadi hilang, menjadi hilang, atau terlupakan, Rasa, pada esensinya setiap manusia memiliki semua bagian dari rasa, ; cinta,kasih sayang, benci, rindu, dan lain sebagainya. Namun hendaknya kita juga harus memahami bagaimana kita dalam bagian ini, bagaimana kita membagi diri terhadap rasa-rasa ini.
Aku mengibaratkan;
Aku tidak memiliki banyak waktu dalam 24jam/hari, 7hari/minggu, 30hari/bulan dst., Aku hanya memiliki beberapa bagiannya saja. Entah itu untuk ibadah, bekerja, ayah-ibu-adik, kekasih, kuliah, teman. Jika kuhitung waktu yang kumiliki, mungkin hanya untuk beberapa orang saja, aku tidak mampu untuk membagi kebanyak orang dan kebanyak waktu. Bahkan mungkin untuk membaginya kepada teman cukup sulit karena itupun aku tidak membaginya untukku sendiri. Mungkin sebagian orang bisa memahami bahwasanya kenapa kadang kala kita harus berbenturan dengan prioritas; dan menurutku itu cukup rasional dan strategi yang cukup baik.
Semisal dalam hal Rasa, tentunya seperti yang sudah kusampaikan, rasa adalah hal yang sensitif. Tapi jika kita mengenal dan mampu menyandingkan waktu dan rasa, aku fikir itu akan baik-baik saja. Seperti halnya; apakah kita punya cukup waktu untuk mencintai, jika punya Cintailah ; apakah kita punya cukup waktu merindu, jika punya merindulah; begitu juga apakah kita punya cukup waktu untuk membenci, jika punya membencilah. Waktu dan rasa jika berjalan dengan waktu dan rasa yang baik maka semua akan menjadi kenangan yang indah sebaliknya jika waktu dan rasa berjalan pada jalan yang buruk akan menjadi bumerang dan masalah dimasa depan, dan asas waktu adalah tidak dapat diulang.
Aku mengibaratkan;
Aku tidak merasa begitu banyak, hanya rindu, gelisah, sayang dan Cinta. Aku tidak punya banyak waktu untuk membenci, untuk mendendam, bahkan aku sama sekali tidak punya waktu untuk itu sekalipun aku merasakannya.
Seperti saat ini, waktuku adalah menulis, tapi ada sosok yang lebih kuprioritaskan baik dalam hal waktu dan Rasa. Cukup dulu, intinya bagaimana kita mengenal dengan baik dan lebih tau kapasitas kita dalam membagi waktu dan Rasa. Karena akupun begitu, tak punya banyak.
Aku mengibaratkan;
Aku tidak merasa begitu banyak, hanya rindu, gelisah, sayang dan Cinta. Aku tidak punya banyak waktu untuk membenci, untuk mendendam, bahkan aku sama sekali tidak punya waktu untuk itu sekalipun aku merasakannya.
Seperti saat ini, waktuku adalah menulis, tapi ada sosok yang lebih kuprioritaskan baik dalam hal waktu dan Rasa. Cukup dulu, intinya bagaimana kita mengenal dengan baik dan lebih tau kapasitas kita dalam membagi waktu dan Rasa. Karena akupun begitu, tak punya banyak.
Menjalin sebuah hubungan bukanlah sesuatu yang sederhana dan mudah. Banyak sekali dari sebagian orang yang telah mencoba memulai dan membangun sebuah hubungan namun kandas. Memulai sebuah hubungan yang didasari dengan sebuah alasan perasaan dan kasih sayang adalah suatu hal yang positif. Namun kadang kala perasaan terlalu membabi buta hingga kita tidak begitu memahami bagaimana hubungan itu sendiri. Ada baiknya dan mungkin sudah seharusnya sebelum memulai sebuah hubungan kita mengenali dengan baik perasaan kita, apa saja yang mungkin terjadi nantinya, bagaimana kita berproses dan menjaga hubungan itu sendiri.
Perasaan adalah instrumen paling sensitif yang untuk sebagian orang adalah alasan utama untuk memulai sebuah hubungan. Perasaan cenderung menggebu-gebu dan terburu-buru. Perasaan juga kadang kala tidak bertahan lama karena kelalaiannya sendiri, Perasaan sebenarnya adalah sesuatu hal yang baik dalam sebuah hubungan jika kita membangun dan menjaganya dengan baik.
Karena nantinya ketika saat kita memulai sebuah hubungan tentunya kelak akan banyak hal yang akan dilewati, hal baik maupun hal buruk mau tidak mau pasti akan kita temui. Pada proses ini hubungan adalah tokoh utamanya, bukan individu masing-masing. Beberapa menjalani sebuah hubungan mereka lebih memilih agar hubungan itu selalu terlihat baik, selalu dalam kondisi yang menyenangkan dan selalu stabil. Padahal didalam inti sebuah hubungan adalah proses, jika hubungan hanya berjalan dan melewati hal baik saja, hubungan ini akan sangat rentan hancur dan rapuh.
Karena nantinya ketika saat kita memulai sebuah hubungan tentunya kelak akan banyak hal yang akan dilewati, hal baik maupun hal buruk mau tidak mau pasti akan kita temui. Pada proses ini hubungan adalah tokoh utamanya, bukan individu masing-masing. Beberapa menjalani sebuah hubungan mereka lebih memilih agar hubungan itu selalu terlihat baik, selalu dalam kondisi yang menyenangkan dan selalu stabil. Padahal didalam inti sebuah hubungan adalah proses, jika hubungan hanya berjalan dan melewati hal baik saja, hubungan ini akan sangat rentan hancur dan rapuh.
Pada dasarnya jika kita ingin hubungan itu benar-benar baik, bukanlah dilihat dari penampilan dari hubungan itu. Melainkan bagaimana hubungan itu berproses, bagaimana hubungan itu melalui masalah-masalah yang tentunya mengancamnya dan menyelesaikannya bersama, bagaimana hubungan itu dapat tetap kokoh walaupun diterpa berbagai macam masalah yang tidak ada habisnya.
Hubungan juga adalah tentang bagaimana pelakunya berkomunikasi, karena tentunya selain perasaan komunikasi adalah faktor yang juga sangat penting untuk kita menjalani hubungan. Jika kita ingin hubungan menjadi baik mulailah dengan komunikasi yang baik. Saling terbuka satu sama lain. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan untuk mengurangi kekhawatiran dari pasangan kita sediri. Keterbukaan adalah proses yang baik itu hubungan yang positif. Memang kadang kala keterbukaan menimbulkan masalah, namun keterbukaan adalah jalan yang lebih menenangkan yang kemudian menuntun kita untuk percaya pada hubungan kita bahwa nantinya akan baik-baik saja.
Apapun dan bagaimanapun sebuah hubungan sebenarnya semua baik. Hanya saja bagaimana seseorang itu memulai, berproses dan menjaganya. Bagaimana mereka dapat konsisten dan berkomitmen pada pasangan, perasaan , komunikasi, serta apapun yang proses yang mereka lalui. Kegagalan dalam sebuah hubungan adalah sebuah pelajaran, keberhasilan sebuah hubungan adalah hasil dari perjuangan setelah bangkit dari kegagalan. Tetaplah berproses dan istiqomah, agar semua yang dilewati dapat berkakhir baik.
Semakin hari hidup dan kehidupan semakin tertantang, apalagi menjalani kehidupan dikota besar, dimana kita harus beradaptasi dengan lingkungan yang terkadang bertentangan dengan norma kita, entah itu norma keluarga, norma agama maupun norma sosial. Model Interaksi yang dilakukan sehari-haripun sudah sangat berkembang mulai dari gaya bahasa dan lain sebagainya. Disamping itu, seiring dengan berkembangnya dan kemajuan zaman ada beberapa hal yang mungkin tanpa terasa kita sudah sedikit keterlaluan dalam praktiknya.
Seperti halnya moral dan tata krama, sedikit aneh menurutku moral dan tata krama juga ikut berkembang mengikuti zaman. Seperti apa itu bentuknya moral dan tata krama yang mengikuti zaman, kemudian moral dan tata krama seperti apa pula yang ketinggalan zaman. Moral dan tata krama adalah sesuatu hal yang mutlak, bagaimana moral yang baik manusia dari zaman dulu dan adalah sama, yang mungkin membedakan adalah budaya dari setiap tempat yang memiliki gayanya tersendiri. Tolak ukur kebaikan itu sendiri adalah rasa saling menghargai dalam berinteraksi.
Kemudian saat ini moralitas anak muda semakin mengkhawatirkan, moralitas yang semakin terkikis habis. Dampak dari gadget dan internet serta kurangnya pengawasan terhadap penggunaannya bisa saja menjadi penyebabnya. Tidak dipungkiri penggunaan gadget saat ini sangat amat tidak terkendali, usia dan golongan bukan lagi jadi penghalang untuk mendapatkan gadget.
Penggunaan gadget sangat mempengaruhi gaya dan cara anak-anak muda sekarang baragaul, trend yang beredar di konten-konten sosial media mejadi rujukan mereka dalam berprilaku, seperti halnya fashion, banyak kalangan remaja putri yang mencari rujukan dan cara mereka berbusana dari internet yang kemudian mereka tiru, mulai dari kosmetik, model sepatu, alis bermotif dan lain sebagainya.
Pada dasarnya gadget dan internet sangat membantu kita dalam mencari dan penyebaran informasi, hanya saja gadget dan internet sering kali tidak digunakan dengan bijak higga pada akhirnya menimbulkan dampak negatif. Gadget diharapkan dapat membantu mempermudah dalam berkomunikasi namun pada eksekusinya gadget malah menjadi masalah orang dalam berkomunikasi. Seperti halnya ketika suatu keluarga sedang berkumpul, setiap individu bukannya saling bertegur sapa bercanda tawa berbagi keceriaan (dipiz*ahutz iklan kali ), tapi malah sibuk dengan gadget dan aplikasi sosial medianya masing-masing. Hal ini merupakan bagian terburuk dari terkikisnya nilai moralitas dan tata krama.
Kita sering kali terlalu tidak peduli dengan keadaan sekitar kita. Hidup dan kehidupan seolah dibiarkan berlalu, tanpa sadar kita sudah terlalu banyak lalai dengan keadaan yang semakin rusak dan terkikis karena tidak mampu bertahan dengan kemajuan zaman yang tidak terkendali. Untuk itu mulailah untuk lebih peduli, untuk lebih melihat, setidaknya dimulai dengan orang terdekat kita.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadamu kebahagiaan akherat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan dunia, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai terhadap orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)
Semoga kita selalu terjauhkan dari hal-hal yang merusak moralitas , tata krama, bahkan keimanan.
Seperti halnya moral dan tata krama, sedikit aneh menurutku moral dan tata krama juga ikut berkembang mengikuti zaman. Seperti apa itu bentuknya moral dan tata krama yang mengikuti zaman, kemudian moral dan tata krama seperti apa pula yang ketinggalan zaman. Moral dan tata krama adalah sesuatu hal yang mutlak, bagaimana moral yang baik manusia dari zaman dulu dan adalah sama, yang mungkin membedakan adalah budaya dari setiap tempat yang memiliki gayanya tersendiri. Tolak ukur kebaikan itu sendiri adalah rasa saling menghargai dalam berinteraksi.
Kemudian saat ini moralitas anak muda semakin mengkhawatirkan, moralitas yang semakin terkikis habis. Dampak dari gadget dan internet serta kurangnya pengawasan terhadap penggunaannya bisa saja menjadi penyebabnya. Tidak dipungkiri penggunaan gadget saat ini sangat amat tidak terkendali, usia dan golongan bukan lagi jadi penghalang untuk mendapatkan gadget.
Penggunaan gadget sangat mempengaruhi gaya dan cara anak-anak muda sekarang baragaul, trend yang beredar di konten-konten sosial media mejadi rujukan mereka dalam berprilaku, seperti halnya fashion, banyak kalangan remaja putri yang mencari rujukan dan cara mereka berbusana dari internet yang kemudian mereka tiru, mulai dari kosmetik, model sepatu, alis bermotif dan lain sebagainya.
Pada dasarnya gadget dan internet sangat membantu kita dalam mencari dan penyebaran informasi, hanya saja gadget dan internet sering kali tidak digunakan dengan bijak higga pada akhirnya menimbulkan dampak negatif. Gadget diharapkan dapat membantu mempermudah dalam berkomunikasi namun pada eksekusinya gadget malah menjadi masalah orang dalam berkomunikasi. Seperti halnya ketika suatu keluarga sedang berkumpul, setiap individu bukannya saling bertegur sapa bercanda tawa berbagi keceriaan (dipiz*ahutz iklan kali ), tapi malah sibuk dengan gadget dan aplikasi sosial medianya masing-masing. Hal ini merupakan bagian terburuk dari terkikisnya nilai moralitas dan tata krama.
Kita sering kali terlalu tidak peduli dengan keadaan sekitar kita. Hidup dan kehidupan seolah dibiarkan berlalu, tanpa sadar kita sudah terlalu banyak lalai dengan keadaan yang semakin rusak dan terkikis karena tidak mampu bertahan dengan kemajuan zaman yang tidak terkendali. Untuk itu mulailah untuk lebih peduli, untuk lebih melihat, setidaknya dimulai dengan orang terdekat kita.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadamu kebahagiaan akherat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan dunia, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai terhadap orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)
Semoga kita selalu terjauhkan dari hal-hal yang merusak moralitas , tata krama, bahkan keimanan.
Minggu yang sama seperti minggu kemarin, bulan yang sama seperti bulan-bulan berlalu, hari yang sama seperti hari-hari yang sudah terlewati, waktu yang berlalu kusimpan utuh, dalam rasa dan kegundahan yang sama, dalam kerinduan yang sama, dalam keinginan yang sama , dalam rajutan mimpi serta angan-angan yang sama. Aku tidak merubah atau bahkan menguranginya sama sekali, rasa dan semua mimpi-mimpiku .. bersamamu.
Sedikit saja, aku ingin bercerita bagaimana aku sekarang dan sebelum ini.
Aku pergi meninggalkan, membiarkanmu dalam lelah dan gundahmu .. sendiri, dimana saat kamu harus berjalan dan sesekali berlari untuk tetap kuat melewati hari-harimu.... sendiri, aku berlalu seoalah aku tak peduli dan acuh terhadap masalah yang sudah kita lewati, seperti itu semua adalah penyelesaian tanpa penyesalan.
Tidak....tidak seperti itu, aku tidak benar-benar mengenalmu saat itu dan mungkin kita tidak terlalu mengenal setelah semua yang telah kita lalui. Selalu saja tidak tepat membawa rasa, benini salah begitu salah, dan kita hanya diam dalam simpul senyum. Aku fikir kita tidak benar-benar melalui hari-hari itu, yang kita tahu adalah semua baik-baik saja. Seperti tidak ada masalah dan pada akhirnya kita terbentur pada luapan emosi yang terlalu egois. Hingga "rasa" terabaikan, rindu terlupakan, mimpi-mimpi hilang seketika berlalu memudar. . . . ketika itu.
Tidak....tidak seperti itu, aku tidak benar-benar mengenalmu saat itu dan mungkin kita tidak terlalu mengenal setelah semua yang telah kita lalui. Selalu saja tidak tepat membawa rasa, benini salah begitu salah, dan kita hanya diam dalam simpul senyum. Aku fikir kita tidak benar-benar melalui hari-hari itu, yang kita tahu adalah semua baik-baik saja. Seperti tidak ada masalah dan pada akhirnya kita terbentur pada luapan emosi yang terlalu egois. Hingga "rasa" terabaikan, rindu terlupakan, mimpi-mimpi hilang seketika berlalu memudar. . . . ketika itu.
Hanya menghitung hari,......semua kembali "rasa" itu kembali membabi buta, rindu yang menggebu , mimpi dan angan semakin menuntutku untuk sekedar "menyapamu".
Aku tahu aku terlalu bersalah, aku juga tahu mungkin aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa, aku juga tahu aku tidak tahu diri, merusak menghancurkan meninggalkan lalu kembali seperti tidak terjadi apa-apa sedang kamu terlalu terluka. Maaf . . . .
Aku hanya bingung kemana aku membawa rasa dan harapan ini, semua masih sama, utuh tidak berubah sema sekali bahkan semakin kuat. Sekali lagi aku terlalu tidak tahu diri. Maaf...
Dan saat ini, setiap harinya aku hanya duduk bersama ketakutan dan kekhawatiranku atas rasaku sendiri. Menunggumu bercerita tentang masa depan nanti akan seperti apa. Dan duduk menunggu seperti ini kadang sangat melelahkan, berangan-angan dengan sapa dan senyummu, bermimpi dengan tawa candamu . . . Maaf jika aku terlalu mengebu-gebu
Kamu juga tidak perlu khawatir atas apa yang akan kamu putuskan, apapun itu akan sangat menghargainya. Baik ataupun buruk aku yakin dan percaya itu adalah keputusanmu yang terbaik. Entah keputusan itu sesuai dengan harapku atau tidak, entah itu akan seperti apa, aku akan selalu siap.
Kamu juga tidak perlu khawatir atas apa yang akan kamu putuskan, apapun itu akan sangat menghargainya. Baik ataupun buruk aku yakin dan percaya itu adalah keputusanmu yang terbaik. Entah keputusan itu sesuai dengan harapku atau tidak, entah itu akan seperti apa, aku akan selalu siap.
Dan jika memang kamu harus pergi dari rasaku ini dan tak menginginkannya ... akupun tak mengapa, aku akan mecoba berdiri tetap tegak dan bersuara lantang , aku akan mencoba untuk menjadi teman terbaik untukmu bahkan jika kamu sedang memperjuangkan seseorang yang sangat kamu inginkan, aku akan selalu mendukungmu. Dan hingga saat itu tiba izinkan aku berpamitan pergi, aku akan mecoba merapikan dan Mengemas Rasa ini, tumpukan-tumpukan rindu dan mimpi-mimpi ini akan kusimpan rapi, semua tentangmu dan hari-hari yang telah kita lewati akan menjadi barisan-barisan tulisan indah yang mungkin cukup untuk menghiburku diperjalanan nanti.
kurang lebih seperti itu,.... bagaimana nantinya sampai detik ini aku masih
Berharap Aku Bisa Bersamamu dan Memilikimu .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..
Salamku pada kalam pagi
Hening berkedip terisak tangis
Meraba-raba mata rasa
Duduk termenung memeluk mimpi
Terlalu kencang
Angin Semalam
Memporak-porandakan ruang ini
Lampu-lampu pecah berteriak
Kertas-kertas mimpi berserakan
Hingga tak kukenali lagi ruang ini
Tak mengapa
Akan kurapikan lagi
Aku Selalu ingat tatanan ruang ini
Dimana Rindu
Dimana Sayang
Dimana Cinta
Aku selalu ingat
Tunggulah, ini tidak akan terlalu lama
Akan kutata ruang ini sebaik mungkin
Jika nanti sudah indah...
Aku Mohon Kembalilah
Disini terlalu dingin dan sepi
Hening berkedip terisak tangis
Meraba-raba mata rasa
Duduk termenung memeluk mimpi
Terlalu kencang
Angin Semalam
Memporak-porandakan ruang ini
Lampu-lampu pecah berteriak
Kertas-kertas mimpi berserakan
Hingga tak kukenali lagi ruang ini
Tak mengapa
Akan kurapikan lagi
Aku Selalu ingat tatanan ruang ini
Dimana Rindu
Dimana Sayang
Dimana Cinta
Aku selalu ingat
Tunggulah, ini tidak akan terlalu lama
Akan kutata ruang ini sebaik mungkin
Jika nanti sudah indah...
Aku Mohon Kembalilah
Disini terlalu dingin dan sepi
Apa kabar ?
apakah cukup dingin disana
jikaa iyaa, sepertinya kita ditempat yang sama
duduk termenung sendiri ...
hai malam
disini terlalu sepi dan semakin sepi
diperjalan aku mencoba menyelesaikan beberapa masalah
yang sangat menggangguku dan dia
lalu aku mencoba kembali
dan.....sepertinya aku terlalu lama pergi
meninggalkan luka, memberi kabar duka
yaa sepertinya aku memang sangat keterlaluan
malam
apakah aku tidak layak lagi
apakah aku terlalu bersalah
Lantas aku harus bagaimana
agar bisa kembali
Agar bisa memiliki senyumnya
agar bisa bercengkrama bersamanya
bagaimana ???
apakah cukup dingin disana
jikaa iyaa, sepertinya kita ditempat yang sama
duduk termenung sendiri ...
hai malam
disini terlalu sepi dan semakin sepi
diperjalan aku mencoba menyelesaikan beberapa masalah
yang sangat menggangguku dan dia
lalu aku mencoba kembali
dan.....sepertinya aku terlalu lama pergi
meninggalkan luka, memberi kabar duka
yaa sepertinya aku memang sangat keterlaluan
malam
apakah aku tidak layak lagi
apakah aku terlalu bersalah
Lantas aku harus bagaimana
agar bisa kembali
Agar bisa memiliki senyumnya
agar bisa bercengkrama bersamanya
bagaimana ???
Aku tidak begitu yakin bagaimana akhirnya
Apakah aku akan terbuang
Apakah aku akan kembali
Atau hanya duduk terabaikan disini
Apakah aku akan kembali
Atau hanya duduk terabaikan disini
Bentuk dari bayangmu terkadang memudar
Terkadang begitu jelas
Ingin rasanya aku menyambut dengan setangkai mawar
walaupun hanya bayang semu , Aku cukup bahagia
Bergurau menarik haluan dalam keheningan
walaupun hanya bayang semu , Aku cukup bahagia
Bergurau menarik haluan dalam keheningan
tertawa dalam geming malam
tanpa sadar aku semakin larut ... aah malam yang semakin larut
bukan Aku
Tahukah kamu,....
Ah, Mungkin kamu tak ingin tahu
(bahwa aku disini semakin Rindu)
(bahwa aku disini semakin Rindu)
Bagaimana ...?
Apakah aku tidak cukup layak lagi
Menabuh genderang Rindu padamu
Menyanyikan lirik-lirik mimpi bersama
Apakah aku tidak layak lagi ?
Lalu ..
Aku harus bagaimana
Aku tidak ingin pergi
Aku tidak ingin berpaling dari senyummu
Yaa tentu saja senyum untukku
Maaf jika aku terlalu keras kepala
Aku hanya tidak ingin semua menjadi pudar
Entah itu tentang Rasa
Tentang Luka
Tentang Air Mata
Tentang semua salah dan benar yang pernah ada
Aku ingin semua tetap jelas terlihat
Lalu kita luluhkan menjadi Bahagia
Yaa tentunya Bersama. . .
Apakah aku tidak cukup layak lagi
Menabuh genderang Rindu padamu
Menyanyikan lirik-lirik mimpi bersama
Apakah aku tidak layak lagi ?
Lalu ..
Aku harus bagaimana
Aku tidak ingin pergi
Aku tidak ingin berpaling dari senyummu
Yaa tentu saja senyum untukku
Maaf jika aku terlalu keras kepala
Aku hanya tidak ingin semua menjadi pudar
Entah itu tentang Rasa
Tentang Luka
Tentang Air Mata
Tentang semua salah dan benar yang pernah ada
Aku ingin semua tetap jelas terlihat
Lalu kita luluhkan menjadi Bahagia
Yaa tentunya Bersama. . .
Ada suatu cerita.
Saat dimana kita menjalani kehidupan ini sebagai seorang Pecinta, menghiraukan semua kicauan-kicauan dunia. Berlaku sesuka rasa, megikuti alur setiap sentuhan.
Aku tidak begitu memahami dan mengerti bagaimana menerjemahkannya. Entah aku yang memang jauh dari wadahnya atau tidak ada tempatku diwadah itu. Setiap kali aku menjalani peran ini, aku tak pernah sama dengan para pecinta lainnya. Mereka berlarian menari dan tertawa..... tertawa ??
ah sepertinya mereka sama sepertiku, tak sadar atas kekonyolon mereka sendiri
Lantas apa yang membedakannya ?
pada bait terakhir aku berjumpa sang Raja, aku berlisan manis
Jalan hidupku adalah menjadi seorang Pecinta.
Nah . . . jika mereka berperan, maka tidak denganku.
Aku tidak memerankan diri sebagai pecinta, Pecinta bagiku adalah jalan hidup.
Dimana aku melihat, mendengar sembari mencintai semua yang terbentang atas sang Pencipta.
Berperan sebagai seorang "Pecinta" sangatlah lancang, bermain-main dengan Rasa, menghujat Rindu, mencaci tangis.
. . . . .jangan tidakkah kamu lihat diluar sana ? diluar ego dan lantang teorimu ada rumah yang hancur lebur. Berisi puing-puing senyuman, harapan dan mimpi.
benar pribadi tumbuh atas tanah mereka masing-masing, dengan pupuk dan hama yang berbeda.
Tapi bukankah kita berdiri atas hujan yang sama ?
Jika benar begitu mengapa memainkan peran itu ? masih menikmati diri dalam peran sebagai pecinta menari-nari berlari tertawa diatas tunas benih-benih "Rasa".
Lihatlah.... setelah hujan reda, setelah peran dan skenario "Pecinta" usai,..
Cinta layu terinjak-injak, remuk dan patah
Lalu hilang tertimbun Tanah.
Lalu hilang tertimbun Tanah.
Jika sudah seperti itu, jangan kamu gali dan cari itu hanya membuang waktu.
Karena saat kamu datang bersama matahari, semua telah hancur melebur menajadi debu.
Harus seperti apa ?
Jadilah bukan Berperanlah.
Karena saat kamu datang bersama matahari, semua telah hancur melebur menajadi debu.
Harus seperti apa ?
Jadilah bukan Berperanlah.