Aku dan Simpul Pengikat
By Rahmat Syatra M - Juli 03, 2016
Aku tidak cukup yakin pada awalnya, namun aku hanya berusaha menyimpulkan
apa yang sedang aku alami dan apa yang aku rasakan. Sedikit demi sedikit aku
memilah ini dan itu kulihat kutelaah semua terasa berbeda. Aku berfikir ini
hanyalah kekonyolan di kosongnya lembar keseharianku.
Sekalipun aku menyadari ini adalah kekonyolan namun aku sendiri menikmati
cerita ini. Dan semakin bermain aku semakin tak ingin kembali pada keseharianku
yang biasa kulakukan. Semua kesalahan adalah kebenaran bagiku. Hatiku buta
seketika, tak ada keburukan dan kesalahan yang kulihat. Semua menjadi sempurna
dan aku pun terhanyut kedalam lambaian susasana ini. Pada suatu ketika aku
tersadar sejenak. Bukannkah ini buka duniaku ? bukankah aku harus mencari
lemabaran-lembaran suci untuk kehidupanku ? bukankah aku mempunyai mimpi yang
indah ? Entahlah, semua hilang seketika, sampai-sampai aku hampir kehilangan
diriku sendiri. Ada sedikit keyakinan dalam diri yang membawa pada suatu hal
yang menurutku selama ini bukanlah hal yang kuinginkan.
Kemudian aku melihat apakah ini benar-benar hal yang tidak ku inginkan atau
inilah yang sebenarnya kuinginkan. Namun sedikit ininsudah terlalu jauh
membawaku menjauhi singgasana yang ku dambakan. Kemudian sekali lagi aku
menyimpulkan ini adalah hal yang wajar dan bukaanlah kesalahan setiap manusia mengalaminya.
“Setiap manusia mengalaminya” jika itu benar apakah yang mereka alami ini
adalah hal yang lumrah atau sudah menjadi jalan cerita kehidupan manusia di
muka bumi ini atau ini adalah suatu kesalahan, penyakit yang sudah merenggut
manusia sejak dulu hingga mereka tidak menyadari bahwa ini adalah sebuah
penyakit yang menyerang mereka.
Ini benar-benar menjadi dilema dimana aku harus berdiskusi bersama lagi-lagi
dengan diriku yang lain. Setiap hadir kesimpulan yang mengatakan ini adalah
salah aku selalu membantah bahwa ini adalah kebenarannya sedang aku sendiri
belum mengenal kebenaran itu sendiri. Aku sama sekali belum mendapatkan
kebenarannya, karena setiap kebaikan yang kusimpulkan bukanlah kebaikan bagi
yang lainnya. Bukankah kesimpulan didapatkan dari hasil dan pengakuan. Jika ini
hanya dari diriku dan diriku yang lain maka tak ada kebaikan yang kulakukan,
tapi hanya perlakuan goresan tanpa makna tanpa tinta.
Aku mencoba berdamai dengan perdebatan kali ini. Aku ikuti alurnya , ku
nikmati proses yang terjadi. Dan beberapa kebiasaan baru kulakukan, “apakah ini
kesalahan?” tidak ini hanyalah hal baru atau hal yang asing sehingga terasa
ganjil. Kembali kujalani hari-hari yang berbeda ini lambat laun hal ini
kujadikan tujuan hidupku. Mulai kutempatkan diriku disana dan mulai berbagi hal
benar-benar mereka pandang baik.
Seolah-olah aku akan menempati puncak dari cerita ini. Kusimpulkan ini akan
baik, aku melihat sesuatu yang sebanarnya kuciptakan sendiri agar tidak ada
konflik dalam jiwa yang tertapa rapi ini. Waktu ke waktu aku menunggu saat itu,
namun kesimpulan berbeda kudapatkan dari kondisi yang seharusnya tidak ku
tutup-tutupi, semua begitu mengejutkan seolah-olah tumpukan lebaran cerita itu
jatuh berserak dan menghempas ke tubuhku. Aku tak dapat mengelak, aku tidak
dapat menyalahkan kesimpulan yang selalu buat sendiri.
Bukankah kekecewaan tak selamanya berdampak buruk dan kehancuran hingga
kerapuhan, jika harus rapuh dan jatuh bukankah kita harus menopang dan mecoba
bangkit. Aku hanya berfikir aku tidaklah sendiri aku bukalah kesalahan, aku
bukanlah kebenaran , aku bukanlah keajaiban, atau aku adalah keindahan, aku
bukalah salah satu dari itu, aku adalah semua dari itu, aku memiliki aku yang
lain yang akan membantuku merapikan catatan ini, menggulungnnya dan mengikat
dengan simpul yang indah.
Aku tidak cukup yakin
pada awalnya, namun aku hanya berusaha menyimpulkan apa yang sedang aku
alami dan apa yang aku rasakan. Sedikit demi sedikit aku memilah ini dan
itu kulihat kutelaah semua terasa berbeda. Aku berfikir ini hanyalah
kekonyolan di kosongnya lembar keseharianku.
Sekalipun aku menyadari ini adalah kekonyolan namun aku sendiri
menikmati cerita ini. Dan semakin bermain aku semakin tak ingin kembali
pada keseharianku yang biasa kulakukan. Semua kesalahan adalah kebenaran
bagiku. Hatiku buta seketika, tak ada keburukan dan kesalahan yang
kulihat. Semua menjadi sempurna dan aku pun terhanyut kedalam lambaian
susasana ini. Pada suatu ketika aku tersadar sejenak. Bukannkah ini buka
duniaku ? bukankah aku harus mencari lemabaran-lembaran suci untuk
kehidupanku ? bukankah aku mempunyai mimpi yang indah ? Entahlah, semua
hilang seketika, sampai-sampai aku hampir kehilangan diriku sendiri. Ada
sedikit keyakinan dalam diri yang membawa pada suatu hal yang menurutku
selama ini bukanlah hal yang kuinginkan.
Kemudian aku melihat apakah ini benar-benar hal yang tidak ku inginkan
atau inilah yang sebenarnya kuinginkan. Namun sedikit ininsudah terlalu
jauh membawaku menjauhi singgasana yang ku dambakan. Kemudian sekali
lagi aku menyimpulkan ini adalah hal yang wajar dan bukaanlah kesalahan
setiap manusia mengalaminya. “Setiap manusia mengalaminya” jika itu
benar apakah yang mereka alami ini adalah hal yang lumrah atau sudah
menjadi jalan cerita kehidupan manusia di muka bumi ini atau ini adalah
suatu kesalahan, penyakit yang sudah merenggut manusia sejak dulu hingga
mereka tidak menyadari bahwa ini adalah sebuah penyakit yang menyerang
mereka.
Ini benar-benar menjadi dilema dimana aku harus berdiskusi bersama
lagi-lagi dengan diriku yang lain. Setiap hadir kesimpulan yang
mengatakan ini adalah salah aku selalu membantah bahwa ini adalah
kebenarannya sedang aku sendiri belum mengenal kebenaran itu sendiri.
Aku sama sekali belum mendapatkan kebenarannya, karena setiap kebaikan
yang kusimpulkan bukanlah kebaikan bagi yang lainnya. Bukankah
kesimpulan didapatkan dari hasil dan pengakuan. Jika ini hanya dari
diriku dan diriku yang lain maka tak ada kebaikan yang kulakukan, tapi
hanya perlakuan goresan tanpa makna tanpa tinta.
Aku mencoba berdamai dengan perdebatan kali ini. Aku ikuti alurnya , ku
nikmati proses yang terjadi. Dan beberapa kebiasaan baru kulakukan,
“apakah ini kesalahan?” tidak ini hanyalah hal baru atau hal yang asing
sehingga terasa ganjil. Kembali kujalani hari-hari yang berbeda ini
lambat laun hal ini kujadikan tujuan hidupku. Mulai kutempatkan diriku
disana dan mulai berbagi hal benar-benar mereka pandang baik.
Seolah-olah aku akan menempati puncak dari cerita ini. Kusimpulkan ini
akan baik, aku melihat sesuatu yang sebanarnya kuciptakan sendiri agar
tidak ada konflik dalam jiwa yang tertapa rapi ini. Waktu ke waktu aku
menunggu saat itu, namun kesimpulan berbeda kudapatkan dari kondisi yang
seharusnya tidak ku tutup-tutupi, semua begitu mengejutkan seolah-olah
tumpukan lebaran cerita itu jatuh berserak dan menghempas ke tubuhku.
Aku tak dapat mengelak, aku tidak dapat menyalahkan kesimpulan yang
selalu buat sendiri.
Bukankah kekecewaan tak selamanya berdampak buruk dan kehancuran hingga
kerapuhan, jika harus rapuh dan jatuh bukankah kita harus menopang dan
mecoba bangkit. Aku hanya berfikir aku tidaklah sendiri aku bukalah
kesalahan, aku bukanlah kebenaran , aku bukanlah keajaiban, atau aku
adalah keindahan, aku bukalah salah satu dari itu, aku adalah semua dari
itu, aku memiliki aku yang lain yang akan membantuku merapikan catatan
ini, menggulungnnya dan mengikat dengan simpul yang indah.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/aku-dan-simpul-pengikat_562fbbba327b61c70c12baef
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/aku-dan-simpul-pengikat_562fbbba327b61c70c12baef
Aku tidak cukup yakin
pada awalnya, namun aku hanya berusaha menyimpulkan apa yang sedang aku
alami dan apa yang aku rasakan. Sedikit demi sedikit aku memilah ini dan
itu kulihat kutelaah semua terasa berbeda. Aku berfikir ini hanyalah
kekonyolan di kosongnya lembar keseharianku.
Sekalipun aku menyadari ini adalah kekonyolan namun aku sendiri
menikmati cerita ini. Dan semakin bermain aku semakin tak ingin kembali
pada keseharianku yang biasa kulakukan. Semua kesalahan adalah kebenaran
bagiku. Hatiku buta seketika, tak ada keburukan dan kesalahan yang
kulihat. Semua menjadi sempurna dan aku pun terhanyut kedalam lambaian
susasana ini. Pada suatu ketika aku tersadar sejenak. Bukannkah ini buka
duniaku ? bukankah aku harus mencari lemabaran-lembaran suci untuk
kehidupanku ? bukankah aku mempunyai mimpi yang indah ? Entahlah, semua
hilang seketika, sampai-sampai aku hampir kehilangan diriku sendiri. Ada
sedikit keyakinan dalam diri yang membawa pada suatu hal yang menurutku
selama ini bukanlah hal yang kuinginkan.
Kemudian aku melihat apakah ini benar-benar hal yang tidak ku inginkan
atau inilah yang sebenarnya kuinginkan. Namun sedikit ininsudah terlalu
jauh membawaku menjauhi singgasana yang ku dambakan. Kemudian sekali
lagi aku menyimpulkan ini adalah hal yang wajar dan bukaanlah kesalahan
setiap manusia mengalaminya. “Setiap manusia mengalaminya” jika itu
benar apakah yang mereka alami ini adalah hal yang lumrah atau sudah
menjadi jalan cerita kehidupan manusia di muka bumi ini atau ini adalah
suatu kesalahan, penyakit yang sudah merenggut manusia sejak dulu hingga
mereka tidak menyadari bahwa ini adalah sebuah penyakit yang menyerang
mereka.
Ini benar-benar menjadi dilema dimana aku harus berdiskusi bersama
lagi-lagi dengan diriku yang lain. Setiap hadir kesimpulan yang
mengatakan ini adalah salah aku selalu membantah bahwa ini adalah
kebenarannya sedang aku sendiri belum mengenal kebenaran itu sendiri.
Aku sama sekali belum mendapatkan kebenarannya, karena setiap kebaikan
yang kusimpulkan bukanlah kebaikan bagi yang lainnya. Bukankah
kesimpulan didapatkan dari hasil dan pengakuan. Jika ini hanya dari
diriku dan diriku yang lain maka tak ada kebaikan yang kulakukan, tapi
hanya perlakuan goresan tanpa makna tanpa tinta.
Aku mencoba berdamai dengan perdebatan kali ini. Aku ikuti alurnya , ku
nikmati proses yang terjadi. Dan beberapa kebiasaan baru kulakukan,
“apakah ini kesalahan?” tidak ini hanyalah hal baru atau hal yang asing
sehingga terasa ganjil. Kembali kujalani hari-hari yang berbeda ini
lambat laun hal ini kujadikan tujuan hidupku. Mulai kutempatkan diriku
disana dan mulai berbagi hal benar-benar mereka pandang baik.
Seolah-olah aku akan menempati puncak dari cerita ini. Kusimpulkan ini
akan baik, aku melihat sesuatu yang sebanarnya kuciptakan sendiri agar
tidak ada konflik dalam jiwa yang tertapa rapi ini. Waktu ke waktu aku
menunggu saat itu, namun kesimpulan berbeda kudapatkan dari kondisi yang
seharusnya tidak ku tutup-tutupi, semua begitu mengejutkan seolah-olah
tumpukan lebaran cerita itu jatuh berserak dan menghempas ke tubuhku.
Aku tak dapat mengelak, aku tidak dapat menyalahkan kesimpulan yang
selalu buat sendiri.
Bukankah kekecewaan tak selamanya berdampak buruk dan kehancuran hingga
kerapuhan, jika harus rapuh dan jatuh bukankah kita harus menopang dan
mecoba bangkit. Aku hanya berfikir aku tidaklah sendiri aku bukalah
kesalahan, aku bukanlah kebenaran , aku bukanlah keajaiban, atau aku
adalah keindahan, aku bukalah salah satu dari itu, aku adalah semua dari
itu, aku memiliki aku yang lain yang akan membantuku merapikan catatan
ini, menggulungnnya dan mengikat dengan simpul yang indah.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/aku-dan-simpul-pengikat_562fbbba327b61c70c12baef
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/aku-dan-simpul-pengikat_562fbbba327b61c70c12baef
Aku tidak cukup yakin
pada awalnya, namun aku hanya berusaha menyimpulkan apa yang sedang aku
alami dan apa yang aku rasakan. Sedikit demi sedikit aku memilah ini dan
itu kulihat kutelaah semua terasa berbeda. Aku berfikir ini hanyalah
kekonyolan di kosongnya lembar keseharianku.
Sekalipun aku menyadari ini adalah kekonyolan namun aku sendiri
menikmati cerita ini. Dan semakin bermain aku semakin tak ingin kembali
pada keseharianku yang biasa kulakukan. Semua kesalahan adalah kebenaran
bagiku. Hatiku buta seketika, tak ada keburukan dan kesalahan yang
kulihat. Semua menjadi sempurna dan aku pun terhanyut kedalam lambaian
susasana ini. Pada suatu ketika aku tersadar sejenak. Bukannkah ini buka
duniaku ? bukankah aku harus mencari lemabaran-lembaran suci untuk
kehidupanku ? bukankah aku mempunyai mimpi yang indah ? Entahlah, semua
hilang seketika, sampai-sampai aku hampir kehilangan diriku sendiri. Ada
sedikit keyakinan dalam diri yang membawa pada suatu hal yang menurutku
selama ini bukanlah hal yang kuinginkan.
Kemudian aku melihat apakah ini benar-benar hal yang tidak ku inginkan
atau inilah yang sebenarnya kuinginkan. Namun sedikit ininsudah terlalu
jauh membawaku menjauhi singgasana yang ku dambakan. Kemudian sekali
lagi aku menyimpulkan ini adalah hal yang wajar dan bukaanlah kesalahan
setiap manusia mengalaminya. “Setiap manusia mengalaminya” jika itu
benar apakah yang mereka alami ini adalah hal yang lumrah atau sudah
menjadi jalan cerita kehidupan manusia di muka bumi ini atau ini adalah
suatu kesalahan, penyakit yang sudah merenggut manusia sejak dulu hingga
mereka tidak menyadari bahwa ini adalah sebuah penyakit yang menyerang
mereka.
Ini benar-benar menjadi dilema dimana aku harus berdiskusi bersama
lagi-lagi dengan diriku yang lain. Setiap hadir kesimpulan yang
mengatakan ini adalah salah aku selalu membantah bahwa ini adalah
kebenarannya sedang aku sendiri belum mengenal kebenaran itu sendiri.
Aku sama sekali belum mendapatkan kebenarannya, karena setiap kebaikan
yang kusimpulkan bukanlah kebaikan bagi yang lainnya. Bukankah
kesimpulan didapatkan dari hasil dan pengakuan. Jika ini hanya dari
diriku dan diriku yang lain maka tak ada kebaikan yang kulakukan, tapi
hanya perlakuan goresan tanpa makna tanpa tinta.
Aku mencoba berdamai dengan perdebatan kali ini. Aku ikuti alurnya , ku
nikmati proses yang terjadi. Dan beberapa kebiasaan baru kulakukan,
“apakah ini kesalahan?” tidak ini hanyalah hal baru atau hal yang asing
sehingga terasa ganjil. Kembali kujalani hari-hari yang berbeda ini
lambat laun hal ini kujadikan tujuan hidupku. Mulai kutempatkan diriku
disana dan mulai berbagi hal benar-benar mereka pandang baik.
Seolah-olah aku akan menempati puncak dari cerita ini. Kusimpulkan ini
akan baik, aku melihat sesuatu yang sebanarnya kuciptakan sendiri agar
tidak ada konflik dalam jiwa yang tertapa rapi ini. Waktu ke waktu aku
menunggu saat itu, namun kesimpulan berbeda kudapatkan dari kondisi yang
seharusnya tidak ku tutup-tutupi, semua begitu mengejutkan seolah-olah
tumpukan lebaran cerita itu jatuh berserak dan menghempas ke tubuhku.
Aku tak dapat mengelak, aku tidak dapat menyalahkan kesimpulan yang
selalu buat sendiri.
Bukankah kekecewaan tak selamanya berdampak buruk dan kehancuran hingga
kerapuhan, jika harus rapuh dan jatuh bukankah kita harus menopang dan
mecoba bangkit. Aku hanya berfikir aku tidaklah sendiri aku bukalah
kesalahan, aku bukanlah kebenaran , aku bukanlah keajaiban, atau aku
adalah keindahan, aku bukalah salah satu dari itu, aku adalah semua dari
itu, aku memiliki aku yang lain yang akan membantuku merapikan catatan
ini, menggulungnnya dan mengikat dengan simpul yang indah.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/aku-dan-simpul-pengikat_562fbbba327b61c70c12baef
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/aku-dan-simpul-pengikat_562fbbba327b61c70c12baef
Aku tidak cukup yakin
pada awalnya, namun aku hanya berusaha menyimpulkan apa yang sedang aku
alami dan apa yang aku rasakan. Sedikit demi sedikit aku memilah ini dan
itu kulihat kutelaah semua terasa berbeda. Aku berfikir ini hanyalah
kekonyolan di kosongnya lembar keseharianku.
Sekalipun aku menyadari ini adalah kekonyolan namun aku sendiri
menikmati cerita ini. Dan semakin bermain aku semakin tak ingin kembali
pada keseharianku yang biasa kulakukan. Semua kesalahan adalah kebenaran
bagiku. Hatiku buta seketika, tak ada keburukan dan kesalahan yang
kulihat. Semua menjadi sempurna dan aku pun terhanyut kedalam lambaian
susasana ini. Pada suatu ketika aku tersadar sejenak. Bukannkah ini buka
duniaku ? bukankah aku harus mencari lemabaran-lembaran suci untuk
kehidupanku ? bukankah aku mempunyai mimpi yang indah ? Entahlah, semua
hilang seketika, sampai-sampai aku hampir kehilangan diriku sendiri. Ada
sedikit keyakinan dalam diri yang membawa pada suatu hal yang menurutku
selama ini bukanlah hal yang kuinginkan.
Kemudian aku melihat apakah ini benar-benar hal yang tidak ku inginkan
atau inilah yang sebenarnya kuinginkan. Namun sedikit ininsudah terlalu
jauh membawaku menjauhi singgasana yang ku dambakan. Kemudian sekali
lagi aku menyimpulkan ini adalah hal yang wajar dan bukaanlah kesalahan
setiap manusia mengalaminya. “Setiap manusia mengalaminya” jika itu
benar apakah yang mereka alami ini adalah hal yang lumrah atau sudah
menjadi jalan cerita kehidupan manusia di muka bumi ini atau ini adalah
suatu kesalahan, penyakit yang sudah merenggut manusia sejak dulu hingga
mereka tidak menyadari bahwa ini adalah sebuah penyakit yang menyerang
mereka.
Ini benar-benar menjadi dilema dimana aku harus berdiskusi bersama
lagi-lagi dengan diriku yang lain. Setiap hadir kesimpulan yang
mengatakan ini adalah salah aku selalu membantah bahwa ini adalah
kebenarannya sedang aku sendiri belum mengenal kebenaran itu sendiri.
Aku sama sekali belum mendapatkan kebenarannya, karena setiap kebaikan
yang kusimpulkan bukanlah kebaikan bagi yang lainnya. Bukankah
kesimpulan didapatkan dari hasil dan pengakuan. Jika ini hanya dari
diriku dan diriku yang lain maka tak ada kebaikan yang kulakukan, tapi
hanya perlakuan goresan tanpa makna tanpa tinta.
Aku mencoba berdamai dengan perdebatan kali ini. Aku ikuti alurnya , ku
nikmati proses yang terjadi. Dan beberapa kebiasaan baru kulakukan,
“apakah ini kesalahan?” tidak ini hanyalah hal baru atau hal yang asing
sehingga terasa ganjil. Kembali kujalani hari-hari yang berbeda ini
lambat laun hal ini kujadikan tujuan hidupku. Mulai kutempatkan diriku
disana dan mulai berbagi hal benar-benar mereka pandang baik.
Seolah-olah aku akan menempati puncak dari cerita ini. Kusimpulkan ini
akan baik, aku melihat sesuatu yang sebanarnya kuciptakan sendiri agar
tidak ada konflik dalam jiwa yang tertapa rapi ini. Waktu ke waktu aku
menunggu saat itu, namun kesimpulan berbeda kudapatkan dari kondisi yang
seharusnya tidak ku tutup-tutupi, semua begitu mengejutkan seolah-olah
tumpukan lebaran cerita itu jatuh berserak dan menghempas ke tubuhku.
Aku tak dapat mengelak, aku tidak dapat menyalahkan kesimpulan yang
selalu buat sendiri.
Bukankah kekecewaan tak selamanya berdampak buruk dan kehancuran hingga
kerapuhan, jika harus rapuh dan jatuh bukankah kita harus menopang dan
mecoba bangkit. Aku hanya berfikir aku tidaklah sendiri aku bukalah
kesalahan, aku bukanlah kebenaran , aku bukanlah keajaiban, atau aku
adalah keindahan, aku bukalah salah satu dari itu, aku adalah semua dari
itu, aku memiliki aku yang lain yang akan membantuku merapikan catatan
ini, menggulungnnya dan mengikat dengan simpul yang indah.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/aku-dan-simpul-pengikat_562fbbba327b61c70c12baef
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/aku-dan-simpul-pengikat_562fbbba327b61c70c12baef
0 komentar