"Bahagia", Siapa dia ?
By Rahmat Syatra M - Juli 03, 2016
Seseorang berkata " agar bahagia kau memerlukan kearifan " tapi
apakah kearifan kemudian. Untuk bahagia kau memerlukan kebenaran untuk
membuatmu bebas. Sekali lagi, tapi apakah kebenaran yang memebebaskan
kita.
Terkadang aku membuka sebuah topik dan berdebat
bersama aku yang lain, apakah aku telah menemukan bahagia itu ataukah
belum, atau sama sekali belum mengetahui apa itu bahagia, siapa itu
bahagia, dimana itu bahagia. Apakah itu hal indah atau hal yang
mengerikan.
Mengapa manusia begitu mudah mengatakan
“aku bahagia” sedang dia dalam dirinya belum tentu merasakannya, ???????
Terukir tanya dan sebuah pernyataan “Ketika aku bahagia maka aku dalam
dirikupun bahagia” tanggapan demikian mungkin akan dikatan oleh setiap
manusia yang merasakan bahagia. “Bahagia adalah rasa, tidaklah mungkin
rasa itu bisa dijelaskan struktur dan unsurnya, itu sama halnya ketika
kamu bertanya bagaimana hakikat rasa manis, maka itu akan sangat sulit
dijelaskan” begitulah jawaban yang diberikan seorang yang dianggap guru
Rohani oleh muridnya, walaupun nyatanya dia mengatakan dia adalah guru
rohani. Aku merasa pertanyaanku adalah pertanyaan bodoh, apakah ketika
aku bertanya hakikat kebahagiaan adalah sebuah kekeliruan. Tidak, aku
tersentak dan aku berfikir ini bukanlah kekeliruan, untuk apa bahagia
jika aku sama sekali tidak mengenal kebahagiaan sesungguhnya, kemudian
apakah senang dan bahagia itu sama. Dan kemudian beetumpuk-tumpuk kertas
menumpuk di kepalaku dengan begitu banyak tulisan pertanyaan, dan yang
paling sulit kumengerti; mengapa guru rohani tidak mengenali bahagia
yang kucari, bukankah dia adalah guru rohani. Seharusnya dia mengenali
bahagia yang ku inginkan atau memang aku tak layak bertemu dengan
bahagia yang kuimpikan.
Mungkin ini adalah hal yang sulit dan
dianggap salah atau sebagainya, semu begitu sulit bahagia yang kucari
untuk didefinisikan-pun sulit. Dan semakin hari ketika aku mendengar
kata-kata bahagia aku seperti dihantui rasa bingung, “seperti apa
bahagia mereka itu ?”
Ini semakin menjadi beban, dari
awal kisah tulisan ini tentunya aku hanya mengambil kata bahagia sebagai
kasusku. Mengapa ? banyak hal dimana kamu sebagai tokoh utama dalam
kehidupan memerankan peran yang sama sekali tidak diketahui skenarionya.
Menyatukan hal tidak bersatu, menyamakan hal tidak sama, menganggap
luka adalah ukiran indah, menganggap masa lalu adalah kenangan dan
selalu dikenang dan kemudian menjadi beban, menganggap senyuman adalah
lambang kebahagian ,menganggap perbedaan adalah hal indah dan kemudia
berkata “aku bahagia”, semua itu seperti omong kosong bagiku. Jika satu
persatu bebarapa dusta diungkap menjadi fakta nyata dan apakah masih ada
bahagia itu. . . .
"Jumpalah Bahagiamu, Sapalah dia, Dan Kenalkan Padaku"....Jika Benar kau Mengenalnya...
0 komentar