Nada Sumbang

By Rahmat Syatra M - Oktober 25, 2016



Setiap irama tercipta dan hadir seketika menjadi indah bahkan hal berbeda dalam rasa . Namun kadang kala irama tidak selalu hadir menjadi indah karena ada sebuah nada yang sumbang dan terasa aneh untuk didengarkan , bahkan rasa.....sungkan untuk menjamahnya.  

            Namun apakah nada ini, nada yang sumbang ini adalah sosok yang merusak sebuah irama, sebuah alunan hangat yang menyentuh rasa. Sejujurnya keyakinan intuitifku tak mampu untuk menelaah untuk menacari siapa yang salah ketika irama sumbang karena sebuah nada atau bahkan irama yang tak pernah mau menerima nada itu sehingga sumbanglah aluanan nada dan irama itu.
            Sekali lagi peduli apa aku atas nada dan irama itu sedang mereka tak pernah mempedulikanku, 

Lantas ............. Siapakah Aku Ini ???

Aku adalah jalan, aku adalah harapan, aku adalah teman, aku adalah sahabat , aku adalah aku atas semua yang ada. Kerapuhan, kehampaan, keputusasaan bahkan kepahitan. Kebaikan dan kebahagiaan sering kutemui di persinggahan, mereka begitu ramah menyapu, mereka seolah menyapu semua dan membuang semua yang aku bawa, semua yang menutupi mereka semua yang menutupi Kebahagian, semua itu adalah hijab yang salah untuk sesuatu yang tak perlu dihijab.

   Aku merasa, inilah yang harus dilakukan nada-nada ketika nada sumbang menghampiri mereka. Biarkan nada sumbang menjadi keindahan dengan cacatnya, bukankah nada tidak hadir sendiri sekalipun itu adalah nada sumbang. Tidak bisakah nada-nada berdamai dengan perbedaan, bukankah irama menjadi indah dengan jalan masing-masing setiap nada itu sendiri.

Namun, ada beberapa alasan ketika nada sumbang tetaplah sumbang bagaimanapun aluanan membawanya menjadi indah. Tidak ada yang bisa memahami betapa egoisnya sebuah nada itu, disaat semua nada itu berirama dengan jalan nya, nada sumbang berjalan dengan keinginannya mengikuti jalan yang sama dengan warna yang berbeda. Kemana pun irama berjalan dia tetaplah menjadi nada yang sumbang hingga keindahan sendiri yang meninggalnya.

            Pengajaran kehidupan merangkul kepahitan layaknya sebuah nada sumbang yang hilang karena keindahan. Bagaimana kehilangan menjadi keindahan, bagaimana melupakan menjadi kebahagiaan, bagaimana hilang dapat diganti tanpa rasa kehilangan. Semua nada dan hamba mencari jawaban atas pertanyaan dari senar-senar kehidupan. Semua mencoba bertahan atas rapuh , kepedihan dan kepahitan. Semua menunggu atas sebuah keindahan. 

Berjalanlah, terlukalah, menangislah, temui semua kepahitan sapalah cercaan  dan hinaan, kenalkan mereka dengan Cinta dan harapan, dan lihatalah Nada Sumbang tersenyum dan berkata “ Nada pun memiliki Cinta sehingga ia tetap menjadi indah walaupun dengan Sumbang-nya”. . . .  . . . .

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar