Bahagia . . . ?
By Rahmat Syatra M - Oktober 10, 2016
Pernah
seseorang berkata, berapa lama untuk mencapai kebahagian, seberapa jauh
kebahagian itu, seperti apa itu bahagia jika semua yang kau miliki kini
bukanlah bahagia. Jalan yang saat ini kutempuh, perkakas yang saat ini
kukenakan ini pun sejujurnya adalah bahagia yang kumiliki. Namun apakah semua
ini adalah bahagia yang kutuju. Ini bukanlah tujuan dari simpulan kebahagiaan
yang kucari. Saat bentuk dan rupa tampak mewah dan mengagumkan. Dan manusia
memandang itu adalah tujuan dari kebahagiaan yang mereka inginkan. Aku hanya
berbenah menyiapkan diri melanjutkan perjalanku.
Terkadang aku pun merasa takut
bagaimana jika perjalanan ini terlalu panjang hingga akupun tak memiliki
perkakas lagi yang akan kukenakan. Bagaimana jika suatu saat aku terjatuh dan
sang raja kehidupan menghentikanku berjalan. Kuasa ku hanya sampai menggerakkan
tubuh ini. Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan akan terjadi baik itu
kenikmatan maupun siksa yang akan menghambatku. Seorang bijak pernah berkata
“sebenarnya bahagiamu ada dalam tafakurmu”. Itu adalah jalan utama yang harus
kutempuh hingga kutemui bahagia itu. Hingga saat-saat ini dimana aku mencoba
mengikuti alur kehidupan manusia pada umumnya.
Mulai mencoba berpasangan.
Mungkin awalnya terasa sedikit aneh dan menyebalkan. Akan ada hal-hal baru yang
harus aku lakukan dan harus kubiasakan. Sekalipun terkadang itu tidak membuatku
merasa nyaman. Dan aku harus tetap berjalan mencari bahagiaku. Berpasangan
dengan lawan jenis mencoba memulai membentuk suatu hubungan, pembicaraan dan
komitmen. Namun hubungan ini bukanlah dengan ikatan. Ini barulah kesinambungan
interaksi antar manusia yang memudahkan proses komunikasi. Disisi lain seorang
bijak berpesan “ pasanganmu adalah kamu yang lain, jadi yang kamu cari adalah
yang dia cari”. Menurutku aku baru mencoba untuk mencari pasanganku jika suatu
hari ada kesalahan dan aku belumlah menemukan diriku yang lain, maka akan ada
pembicaaran yang harus dihentikan, hubungan yang harus diubah, dan barangkali
komitmen yang harus dilupakan.
Masih terlalu jauh bahkan kutemui jalan yang
rusak dimana aku harus berhati-hati dan harus sangat memperhatikan langkahku.
Ada beberapa pesan yang harus selalu ku ingat ada beberapa perkakas yang tak
bisa kulepaskan dan ada beberapa saat dimana aku harus duduk sendiri jauh dari
keramaian para pencari dan jejak jalan kehidupan. Aku masih perlu banyak
memahami pola-pola dalam peta kehidupan, rambu-rambu, dan persimpangan yang
akan menyesatkan jalanku. Saat ini aku merasa sedikit lelah, banyak pesan yang tidak
kusampaikan, banyak rambu yang kulanggar, banyak pula persimpangan yang
kusinggahi. Aku masih belum tau seberapa jauh lagi perjalanan yang akan
kutempuh ini, seberapa banyak lagi kenikmatan dan kesusahan dalam berjalan ku
nanti. Aku harus tau kapan aku harus berjalan dan kapan aku harus beristirahat.
Jalanan teralalu ramai, terlalu penat atau aku yang telah tersesat. Aku yang
lupa atau aku telah melupakan. Dan aku masih belum tau dan aku harus tau.
Setidaknya aku masih sempat bercerita atas bahagia yang kucari dan aku harus
melajutkan perjalanan . . . . . . . . . . . . . . . .
Pernah seseorang
berkata, berapa lama untuk mencapai kebahagian, seberapa jauh kebahagian
itu, seperti apa itu bahagia jika semua yang kau miliki kini bukanlah
bahagia.
Jalan yang saat ini kutempuh, perkakas yang saat ini kukenakan ini pun
sejujurnya adalah bahagia yang kumiliki. Namun apakah semua ini adalah
bahagia yang kutuju. Ini bukanlah tujuan dari simpulan kebahagiaan yang
kucari. Saat bentuk dan rupa tampak mewah dan mengagumkan. Dan manusia
memandang itu adalah tujuan dari kebahagiaan yang mereka inginkan. Aku
hanya berbenah menyiapkan diri melanjutkan perjalanku.
Terkadang aku pun merasa takut bagaimana jika perjalanan ini terlalu
panjang hingga akupun tak memiliki perkakas lagi yang akan kukenakan.
Bagaimana jika suatu saat aku terjatuh dan sang raja kehidupan
menghentikanku berjalan. Kuasa ku hanya sampai menggerakkan tubuh ini.
Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan akan terjadi baik itu kenikmatan
maupun siksa yang akan menghambatku.
Seorang bijak pernah berkata “sebenarnya bahagiamu ada dalam tafakurmu”.
Itu adalah jalan utama yang harus kutempuh hingga kutemui bahagia itu.
Hingga saat-saat ini dimana aku mencoba mengikuti alur kehidupan manusia
pada umumnya. Mulai mencoba berpasangan. Mungkin awalnya terasa sedikit
aneh dan menyebalkan. Akan ada hal-hal baru yang harus aku lakukan dan
harus kubiasakan. Sekalipun terkadang itu tidak membuatku merasa nyaman.
Dan aku harus tetap berjalan mencari bahagiaku.
Berpasangan dengan lawan jenis mencoba memulai membentuk suatu hubungan,
pembicaraan dan komitmen. Namun hubungan ini bukanlah dengan ikatan.
Ini barulah kesinambungan interaksi antar manusia yang memudahkan proses
komunikasi. Disisi lain seorang bijak berpesan “ pasanganmu adalah kamu
yang lain, jadi yang kamu cari adalah yang dia cari”. Menurutku aku
baru mencoba untuk mencari pasanganku jika suatu hari ada kesalahan dan
aku belumlah menemukan diriku yang lain, maka akan ada pembicaaran yang
harus dihentikan, hubungan yang harus diubah, dan barangkali komitmen
yang harus dilupakan.
Masih terlalu jauh bahkan kutemui jalan yang rusak dimana aku harus
berhati-hati dan harus sangat memperhatikan langkahku. Ada beberapa
pesan yang harus selalu ku ingat ada beberapa perkakas yang tak bisa
kulepaskan dan ada beberapa saat dimana aku harus duduk sendiri jauh
dari keramaian para pencari dan jejak jalan kehidupan.
Aku masih perlu banyak memahami pola-pola dalam peta kehidupan,
rambu-rambu, dan persimpangan yang akan menyesatkan jalanku.
Saat ini aku merasa sedikit lelah, banyak pesan yang tidak kusampaikan,
banyak rambu yang kulanggar, banyak pula persimpangan yang kusinggahi.
Aku masih belum tau seberapa jauh lagi perjalanan yang akan kutempuh
ini, seberapa banyak lagi kenikmatan dan kesusahan dalam berjalan ku
nanti. Aku harus tau kapan aku harus berjalan dan kapan aku harus
beristirahat. Jalanan teralalu ramai, terlalu penat atau aku yang telah
tersesat. Aku yang lupa atau aku telah melupakan. Dan aku masih belum
tau dan aku harus tau. Setidaknya aku masih sempat bercerita atas
bahagia yang kucari dan aku harus melajutkan perjalanan . . . . . . . . .
. . . . . . .
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Pernah seseorang
berkata, berapa lama untuk mencapai kebahagian, seberapa jauh kebahagian
itu, seperti apa itu bahagia jika semua yang kau miliki kini bukanlah
bahagia.
Jalan yang saat ini kutempuh, perkakas yang saat ini kukenakan ini pun
sejujurnya adalah bahagia yang kumiliki. Namun apakah semua ini adalah
bahagia yang kutuju. Ini bukanlah tujuan dari simpulan kebahagiaan yang
kucari. Saat bentuk dan rupa tampak mewah dan mengagumkan. Dan manusia
memandang itu adalah tujuan dari kebahagiaan yang mereka inginkan. Aku
hanya berbenah menyiapkan diri melanjutkan perjalanku.
Terkadang aku pun merasa takut bagaimana jika perjalanan ini terlalu
panjang hingga akupun tak memiliki perkakas lagi yang akan kukenakan.
Bagaimana jika suatu saat aku terjatuh dan sang raja kehidupan
menghentikanku berjalan. Kuasa ku hanya sampai menggerakkan tubuh ini.
Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan akan terjadi baik itu kenikmatan
maupun siksa yang akan menghambatku.
Seorang bijak pernah berkata “sebenarnya bahagiamu ada dalam tafakurmu”.
Itu adalah jalan utama yang harus kutempuh hingga kutemui bahagia itu.
Hingga saat-saat ini dimana aku mencoba mengikuti alur kehidupan manusia
pada umumnya. Mulai mencoba berpasangan. Mungkin awalnya terasa sedikit
aneh dan menyebalkan. Akan ada hal-hal baru yang harus aku lakukan dan
harus kubiasakan. Sekalipun terkadang itu tidak membuatku merasa nyaman.
Dan aku harus tetap berjalan mencari bahagiaku.
Berpasangan dengan lawan jenis mencoba memulai membentuk suatu hubungan,
pembicaraan dan komitmen. Namun hubungan ini bukanlah dengan ikatan.
Ini barulah kesinambungan interaksi antar manusia yang memudahkan proses
komunikasi. Disisi lain seorang bijak berpesan “ pasanganmu adalah kamu
yang lain, jadi yang kamu cari adalah yang dia cari”. Menurutku aku
baru mencoba untuk mencari pasanganku jika suatu hari ada kesalahan dan
aku belumlah menemukan diriku yang lain, maka akan ada pembicaaran yang
harus dihentikan, hubungan yang harus diubah, dan barangkali komitmen
yang harus dilupakan.
Masih terlalu jauh bahkan kutemui jalan yang rusak dimana aku harus
berhati-hati dan harus sangat memperhatikan langkahku. Ada beberapa
pesan yang harus selalu ku ingat ada beberapa perkakas yang tak bisa
kulepaskan dan ada beberapa saat dimana aku harus duduk sendiri jauh
dari keramaian para pencari dan jejak jalan kehidupan.
Aku masih perlu banyak memahami pola-pola dalam peta kehidupan,
rambu-rambu, dan persimpangan yang akan menyesatkan jalanku.
Saat ini aku merasa sedikit lelah, banyak pesan yang tidak kusampaikan,
banyak rambu yang kulanggar, banyak pula persimpangan yang kusinggahi.
Aku masih belum tau seberapa jauh lagi perjalanan yang akan kutempuh
ini, seberapa banyak lagi kenikmatan dan kesusahan dalam berjalan ku
nanti. Aku harus tau kapan aku harus berjalan dan kapan aku harus
beristirahat. Jalanan teralalu ramai, terlalu penat atau aku yang telah
tersesat. Aku yang lupa atau aku telah melupakan. Dan aku masih belum
tau dan aku harus tau. Setidaknya aku masih sempat bercerita atas
bahagia yang kucari dan aku harus melajutkan perjalanan . . . . . . . . .
. . . . . . .
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Pernah seseorang
berkata, berapa lama untuk mencapai kebahagian, seberapa jauh kebahagian
itu, seperti apa itu bahagia jika semua yang kau miliki kini bukanlah
bahagia.
Jalan yang saat ini kutempuh, perkakas yang saat ini kukenakan ini pun
sejujurnya adalah bahagia yang kumiliki. Namun apakah semua ini adalah
bahagia yang kutuju. Ini bukanlah tujuan dari simpulan kebahagiaan yang
kucari. Saat bentuk dan rupa tampak mewah dan mengagumkan. Dan manusia
memandang itu adalah tujuan dari kebahagiaan yang mereka inginkan. Aku
hanya berbenah menyiapkan diri melanjutkan perjalanku.
Terkadang aku pun merasa takut bagaimana jika perjalanan ini terlalu
panjang hingga akupun tak memiliki perkakas lagi yang akan kukenakan.
Bagaimana jika suatu saat aku terjatuh dan sang raja kehidupan
menghentikanku berjalan. Kuasa ku hanya sampai menggerakkan tubuh ini.
Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan akan terjadi baik itu kenikmatan
maupun siksa yang akan menghambatku.
Seorang bijak pernah berkata “sebenarnya bahagiamu ada dalam tafakurmu”.
Itu adalah jalan utama yang harus kutempuh hingga kutemui bahagia itu.
Hingga saat-saat ini dimana aku mencoba mengikuti alur kehidupan manusia
pada umumnya. Mulai mencoba berpasangan. Mungkin awalnya terasa sedikit
aneh dan menyebalkan. Akan ada hal-hal baru yang harus aku lakukan dan
harus kubiasakan. Sekalipun terkadang itu tidak membuatku merasa nyaman.
Dan aku harus tetap berjalan mencari bahagiaku.
Berpasangan dengan lawan jenis mencoba memulai membentuk suatu hubungan,
pembicaraan dan komitmen. Namun hubungan ini bukanlah dengan ikatan.
Ini barulah kesinambungan interaksi antar manusia yang memudahkan proses
komunikasi. Disisi lain seorang bijak berpesan “ pasanganmu adalah kamu
yang lain, jadi yang kamu cari adalah yang dia cari”. Menurutku aku
baru mencoba untuk mencari pasanganku jika suatu hari ada kesalahan dan
aku belumlah menemukan diriku yang lain, maka akan ada pembicaaran yang
harus dihentikan, hubungan yang harus diubah, dan barangkali komitmen
yang harus dilupakan.
Masih terlalu jauh bahkan kutemui jalan yang rusak dimana aku harus
berhati-hati dan harus sangat memperhatikan langkahku. Ada beberapa
pesan yang harus selalu ku ingat ada beberapa perkakas yang tak bisa
kulepaskan dan ada beberapa saat dimana aku harus duduk sendiri jauh
dari keramaian para pencari dan jejak jalan kehidupan.
Aku masih perlu banyak memahami pola-pola dalam peta kehidupan,
rambu-rambu, dan persimpangan yang akan menyesatkan jalanku.
Saat ini aku merasa sedikit lelah, banyak pesan yang tidak kusampaikan,
banyak rambu yang kulanggar, banyak pula persimpangan yang kusinggahi.
Aku masih belum tau seberapa jauh lagi perjalanan yang akan kutempuh
ini, seberapa banyak lagi kenikmatan dan kesusahan dalam berjalan ku
nanti. Aku harus tau kapan aku harus berjalan dan kapan aku harus
beristirahat. Jalanan teralalu ramai, terlalu penat atau aku yang telah
tersesat. Aku yang lupa atau aku telah melupakan. Dan aku masih belum
tau dan aku harus tau. Setidaknya aku masih sempat bercerita atas
bahagia yang kucari dan aku harus melajutkan perjalanan . . . . . . . . .
. . . . . . .
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Pernah seseorang
berkata, berapa lama untuk mencapai kebahagian, seberapa jauh kebahagian
itu, seperti apa itu bahagia jika semua yang kau miliki kini bukanlah
bahagia.
Jalan yang saat ini kutempuh, perkakas yang saat ini kukenakan ini pun
sejujurnya adalah bahagia yang kumiliki. Namun apakah semua ini adalah
bahagia yang kutuju. Ini bukanlah tujuan dari simpulan kebahagiaan yang
kucari. Saat bentuk dan rupa tampak mewah dan mengagumkan. Dan manusia
memandang itu adalah tujuan dari kebahagiaan yang mereka inginkan. Aku
hanya berbenah menyiapkan diri melanjutkan perjalanku.
Terkadang aku pun merasa takut bagaimana jika perjalanan ini terlalu
panjang hingga akupun tak memiliki perkakas lagi yang akan kukenakan.
Bagaimana jika suatu saat aku terjatuh dan sang raja kehidupan
menghentikanku berjalan. Kuasa ku hanya sampai menggerakkan tubuh ini.
Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan akan terjadi baik itu kenikmatan
maupun siksa yang akan menghambatku.
Seorang bijak pernah berkata “sebenarnya bahagiamu ada dalam tafakurmu”.
Itu adalah jalan utama yang harus kutempuh hingga kutemui bahagia itu.
Hingga saat-saat ini dimana aku mencoba mengikuti alur kehidupan manusia
pada umumnya. Mulai mencoba berpasangan. Mungkin awalnya terasa sedikit
aneh dan menyebalkan. Akan ada hal-hal baru yang harus aku lakukan dan
harus kubiasakan. Sekalipun terkadang itu tidak membuatku merasa nyaman.
Dan aku harus tetap berjalan mencari bahagiaku.
Berpasangan dengan lawan jenis mencoba memulai membentuk suatu hubungan,
pembicaraan dan komitmen. Namun hubungan ini bukanlah dengan ikatan.
Ini barulah kesinambungan interaksi antar manusia yang memudahkan proses
komunikasi. Disisi lain seorang bijak berpesan “ pasanganmu adalah kamu
yang lain, jadi yang kamu cari adalah yang dia cari”. Menurutku aku
baru mencoba untuk mencari pasanganku jika suatu hari ada kesalahan dan
aku belumlah menemukan diriku yang lain, maka akan ada pembicaaran yang
harus dihentikan, hubungan yang harus diubah, dan barangkali komitmen
yang harus dilupakan.
Masih terlalu jauh bahkan kutemui jalan yang rusak dimana aku harus
berhati-hati dan harus sangat memperhatikan langkahku. Ada beberapa
pesan yang harus selalu ku ingat ada beberapa perkakas yang tak bisa
kulepaskan dan ada beberapa saat dimana aku harus duduk sendiri jauh
dari keramaian para pencari dan jejak jalan kehidupan.
Aku masih perlu banyak memahami pola-pola dalam peta kehidupan,
rambu-rambu, dan persimpangan yang akan menyesatkan jalanku.
Saat ini aku merasa sedikit lelah, banyak pesan yang tidak kusampaikan,
banyak rambu yang kulanggar, banyak pula persimpangan yang kusinggahi.
Aku masih belum tau seberapa jauh lagi perjalanan yang akan kutempuh
ini, seberapa banyak lagi kenikmatan dan kesusahan dalam berjalan ku
nanti. Aku harus tau kapan aku harus berjalan dan kapan aku harus
beristirahat. Jalanan teralalu ramai, terlalu penat atau aku yang telah
tersesat. Aku yang lupa atau aku telah melupakan. Dan aku masih belum
tau dan aku harus tau. Setidaknya aku masih sempat bercerita atas
bahagia yang kucari dan aku harus melajutkan perjalanan . . . . . . . . .
. . . . . . .
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Pernah seseorang
berkata, berapa lama untuk mencapai kebahagian, seberapa jauh kebahagian
itu, seperti apa itu bahagia jika semua yang kau miliki kini bukanlah
bahagia.
Jalan yang saat ini kutempuh, perkakas yang saat ini kukenakan ini pun
sejujurnya adalah bahagia yang kumiliki. Namun apakah semua ini adalah
bahagia yang kutuju. Ini bukanlah tujuan dari simpulan kebahagiaan yang
kucari. Saat bentuk dan rupa tampak mewah dan mengagumkan. Dan manusia
memandang itu adalah tujuan dari kebahagiaan yang mereka inginkan. Aku
hanya berbenah menyiapkan diri melanjutkan perjalanku.
Terkadang aku pun merasa takut bagaimana jika perjalanan ini terlalu
panjang hingga akupun tak memiliki perkakas lagi yang akan kukenakan.
Bagaimana jika suatu saat aku terjatuh dan sang raja kehidupan
menghentikanku berjalan. Kuasa ku hanya sampai menggerakkan tubuh ini.
Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan akan terjadi baik itu kenikmatan
maupun siksa yang akan menghambatku.
Seorang bijak pernah berkata “sebenarnya bahagiamu ada dalam tafakurmu”.
Itu adalah jalan utama yang harus kutempuh hingga kutemui bahagia itu.
Hingga saat-saat ini dimana aku mencoba mengikuti alur kehidupan manusia
pada umumnya. Mulai mencoba berpasangan. Mungkin awalnya terasa sedikit
aneh dan menyebalkan. Akan ada hal-hal baru yang harus aku lakukan dan
harus kubiasakan. Sekalipun terkadang itu tidak membuatku merasa nyaman.
Dan aku harus tetap berjalan mencari bahagiaku.
Berpasangan dengan lawan jenis mencoba memulai membentuk suatu hubungan,
pembicaraan dan komitmen. Namun hubungan ini bukanlah dengan ikatan.
Ini barulah kesinambungan interaksi antar manusia yang memudahkan proses
komunikasi. Disisi lain seorang bijak berpesan “ pasanganmu adalah kamu
yang lain, jadi yang kamu cari adalah yang dia cari”. Menurutku aku
baru mencoba untuk mencari pasanganku jika suatu hari ada kesalahan dan
aku belumlah menemukan diriku yang lain, maka akan ada pembicaaran yang
harus dihentikan, hubungan yang harus diubah, dan barangkali komitmen
yang harus dilupakan.
Masih terlalu jauh bahkan kutemui jalan yang rusak dimana aku harus
berhati-hati dan harus sangat memperhatikan langkahku. Ada beberapa
pesan yang harus selalu ku ingat ada beberapa perkakas yang tak bisa
kulepaskan dan ada beberapa saat dimana aku harus duduk sendiri jauh
dari keramaian para pencari dan jejak jalan kehidupan.
Aku masih perlu banyak memahami pola-pola dalam peta kehidupan,
rambu-rambu, dan persimpangan yang akan menyesatkan jalanku.
Saat ini aku merasa sedikit lelah, banyak pesan yang tidak kusampaikan,
banyak rambu yang kulanggar, banyak pula persimpangan yang kusinggahi.
Aku masih belum tau seberapa jauh lagi perjalanan yang akan kutempuh
ini, seberapa banyak lagi kenikmatan dan kesusahan dalam berjalan ku
nanti. Aku harus tau kapan aku harus berjalan dan kapan aku harus
beristirahat. Jalanan teralalu ramai, terlalu penat atau aku yang telah
tersesat. Aku yang lupa atau aku telah melupakan. Dan aku masih belum
tau dan aku harus tau. Setidaknya aku masih sempat bercerita atas
bahagia yang kucari dan aku harus melajutkan perjalanan . . . . . . . . .
. . . . . . .
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Pernah seseorang
berkata, berapa lama untuk mencapai kebahagian, seberapa jauh kebahagian
itu, seperti apa itu bahagia jika semua yang kau miliki kini bukanlah
bahagia.
Jalan yang saat ini kutempuh, perkakas yang saat ini kukenakan ini pun
sejujurnya adalah bahagia yang kumiliki. Namun apakah semua ini adalah
bahagia yang kutuju. Ini bukanlah tujuan dari simpulan kebahagiaan yang
kucari. Saat bentuk dan rupa tampak mewah dan mengagumkan. Dan manusia
memandang itu adalah tujuan dari kebahagiaan yang mereka inginkan. Aku
hanya berbenah menyiapkan diri melanjutkan perjalanku.
Terkadang aku pun merasa takut bagaimana jika perjalanan ini terlalu
panjang hingga akupun tak memiliki perkakas lagi yang akan kukenakan.
Bagaimana jika suatu saat aku terjatuh dan sang raja kehidupan
menghentikanku berjalan. Kuasa ku hanya sampai menggerakkan tubuh ini.
Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan akan terjadi baik itu kenikmatan
maupun siksa yang akan menghambatku.
Seorang bijak pernah berkata “sebenarnya bahagiamu ada dalam tafakurmu”.
Itu adalah jalan utama yang harus kutempuh hingga kutemui bahagia itu.
Hingga saat-saat ini dimana aku mencoba mengikuti alur kehidupan manusia
pada umumnya. Mulai mencoba berpasangan. Mungkin awalnya terasa sedikit
aneh dan menyebalkan. Akan ada hal-hal baru yang harus aku lakukan dan
harus kubiasakan. Sekalipun terkadang itu tidak membuatku merasa nyaman.
Dan aku harus tetap berjalan mencari bahagiaku.
Berpasangan dengan lawan jenis mencoba memulai membentuk suatu hubungan,
pembicaraan dan komitmen. Namun hubungan ini bukanlah dengan ikatan.
Ini barulah kesinambungan interaksi antar manusia yang memudahkan proses
komunikasi. Disisi lain seorang bijak berpesan “ pasanganmu adalah kamu
yang lain, jadi yang kamu cari adalah yang dia cari”. Menurutku aku
baru mencoba untuk mencari pasanganku jika suatu hari ada kesalahan dan
aku belumlah menemukan diriku yang lain, maka akan ada pembicaaran yang
harus dihentikan, hubungan yang harus diubah, dan barangkali komitmen
yang harus dilupakan.
Masih terlalu jauh bahkan kutemui jalan yang rusak dimana aku harus
berhati-hati dan harus sangat memperhatikan langkahku. Ada beberapa
pesan yang harus selalu ku ingat ada beberapa perkakas yang tak bisa
kulepaskan dan ada beberapa saat dimana aku harus duduk sendiri jauh
dari keramaian para pencari dan jejak jalan kehidupan.
Aku masih perlu banyak memahami pola-pola dalam peta kehidupan,
rambu-rambu, dan persimpangan yang akan menyesatkan jalanku.
Saat ini aku merasa sedikit lelah, banyak pesan yang tidak kusampaikan,
banyak rambu yang kulanggar, banyak pula persimpangan yang kusinggahi.
Aku masih belum tau seberapa jauh lagi perjalanan yang akan kutempuh
ini, seberapa banyak lagi kenikmatan dan kesusahan dalam berjalan ku
nanti. Aku harus tau kapan aku harus berjalan dan kapan aku harus
beristirahat. Jalanan teralalu ramai, terlalu penat atau aku yang telah
tersesat. Aku yang lupa atau aku telah melupakan. Dan aku masih belum
tau dan aku harus tau. Setidaknya aku masih sempat bercerita atas
bahagia yang kucari dan aku harus melajutkan perjalanan . . . . . . . . .
. . . . . . .
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ibnunaseer/bahagia-part-2_56c5d53c167b61f80a372f6c
0 komentar