Cerita Pengantar Senja
By Rahmat Syatra M - Desember 24, 2016
Sedikit bercerita tetang sebuah
buku yang kutemukan dibalik celah-celah sore ini. Ada beberapa lembar yang
kukira menarik untuk kubaca dan kuceritakan di kolom usang ini.
Seperti biasa, melakukan
rutinitas sebagai bandit sosial aku bercengkrama dengan beberapa teman bahkan
sahabat yang terlupakan. Beberapa dari mereka bahkan tidak menyadari betapa
terlupakannya mereka atas nama , mimpi, harapan dan cerita mereka. Entah bagaimana mereka masih bisa tertawa
menyambut kisah-kisah dan cerita baru setiap harinya sedang aku masih berada
dalam lembar lama dan selalu pada bait yang sama.
Ada yang begitu menarik untuk
dibaca pada sore itu pada bab dan halaman kosong. Terlihat hanya bayang senja
yang perlahan memudar. Bentuk dan polanya tidak membentuk pola dari sebuah huruf atau tulisan namun hanya
sebuah bayang. “woi” . . . . teguran khas dari seorang teman untukku seorang
pelamun senja yang masih terpukau atas lembar kosong ini. Kuberikan senyum
ringkas dan kulanjutkan membaca.
Pada bayang lembar kosong itu
menceritakan sebuah kisah dimana manusia tidak dapat lagi menemui hakikat dari
arti kehidupannya. Menjalani kehidupan lepas dengan tawa, sedih, duka, ceria
dan lupa atas keberadaannya sendiri. Seperti ada yang hilang dalam diri mereka,
entah itu sengaja mereka hilangkan atau hilang disuatu tempat. Tentunya mereka
tidak menyadari atas betapa berharganya hal tersebut. Lembar kosong ini
berakhir dengan titik (.), aku terhening sejenak dan kuletakkan tanganku dia
atas lembar itu, terlihat bayang-bayang tangan sedikit memanjang dan
perlahan-lahan merapuh.
Rasanya aku ingin tertawa namun
air mata sudah terlanjur lepas menetas di atas lembar kosong itu. Aku sungguh
tidak benar-benar mengerti apa dan harus bagaimana dalam kehidupan ini. Tidak
pernah ada yang tahu bagaimana sebenarnya kehidupan berjalan, hanya saja
mungkin kita berpura-pura tahu atas kehidupan ini, yang terkadang kita terlalu
lancang untuk tertawa dan mengeluh setiap harinya atas dosa dan air mata.
Pernah kita berada dalam suatu masa, dimana kita merasa hampa, kosong , rapuh
dan sampailah di titik jenuh, titik dimana rasanya ingin pergi dari kefanaan dan kenaifan.
Kupandangi lagi lembar kosong itu
dan seorang bijak menitipkan tulisannya pada baris paling bawah dimana tidak
ada tulisan lain selain sebaris tulisan itu.
“Lihatlah, bacalah dan nilailah. Lihatlah, renungkanlah dan kembalilah”
Mungkin itulah pesan dari lembar
kosong itu, kita sudah terlalu jauh dari diri sendiri sebagai insan yang
memiliki nurani. Kita mungkin sudah lupa bagaimana untuk rendah hati, bagaimana
menjadi sederhana, bagaimana untuk senyum, bagaiamana untuk ikhlas, bagaimana
memiliki, bagaimana mengasihi, bagaimana menyayangi, bagaimana mencintai,
bagaimana menjadi diri sendiri.
“ Pulanglah nak ibu sudah terlalu
rindu, kamu sudah terlalu jauh dari dirimu, jangan biarkan dunia
merubahmu, ubahlah dunia menjadi dirimu
“
– Mak Petang -
0 komentar