Mendengar Untuk Didengarkan
By Rahmat Syatra M - Januari 06, 2017
Pada
dasarnya menjalani kahidupan adalah bagaimana cara kita agar tetap pada
prinsip-prinsip dan norma yang ada dalam suatu tatanan dimana tatanan tersebut
yang menuntun kita agar tetap selalu menjaga kehidupan yang kita jalani agar
tetap hidup. Banyak sekali diantara kita mengeluhkan tentang kehidupan, tentang
siklus yang terjadi, tentang norma yang mengikat dan lain sebagainya. Kemudian mulai
datang pertanyaan, siapakah yang terlebih dahulu diciptakan, norma atau
kehidupan ?
Pertanyaan
yang mungkin tidak pernah terfikirkan dikepala kita, dan sekalipun melintas
melintas mungkin kita tidak akan mempedulikan pertanyaan tersebut. Untuk apa
dipedulikan, sekarang kehidupan sudah jauh di peradaban, dan mengapa kita masih
membahas masalah penciptaan.
Berbicara
tentang kehidupan tentu kita bicara tentang kematian, tak sedikit manusia yang
hidup takut akan kematian sedang mereka menjalani kehidupan dan tentunya
kematian adalah hal yang pasti. Namun, ada beberapa hal-hal disela-sela
kehidupan yang tanpa kita sadari telah hilang atau kita mati dalam kehidupan. Tentu
sedikit rumit bagi kita untuk memahaminya seperti apa itu hidup dalam kematian
atau mati dalam kehidupan.
Saat
kita memahami kata-kata tersebut sebenarnya bukan kita buta makna, buta bahasa,
atau apalah istilahnya. Itu karena ada suatu hal yang telah mati dalam diri ini. Lantas jika memang sudah mati apa
arti kehidupan ini ? pertanyaan kembali hadir atas pernyataan tersebut. Tentu kematian
dalam tatanan moral bukanlah kematian seperti kematian dalam istilah ilmu biologi.
Kematian dalam hal ini adalah kematian yang merenggut prinsip-prinsip dan norma
dalam tatanan kehidupan.
Saat
prinsip dan norma tersebut mati, maka moral akan melemah kebaikan semakin
memudar dan siklus kehidupan akan berputar perlahan diatas penderitaan dan
kesengsaraan tatanan kehidupan. Dimulai dari sosok yang mulai tidak peduli atas
kewajiban dan hanya menuntut hak, sosok
yang hanya ingin dicintai namun enggan mencintai, ingin selalu dipuji namun
enggah rendah hati dan memuji, sosok yang ingin selalu didengarkan namun enggan
untuk mendengarkan, sosok yang ingin selalu diberi namun enggan untuk memberi,
sosok yang selalu mengevaluasi orang lain namun enggan mengintrospeksi diri dan
lain banyak hal lagi yang mungkin terlalu frontal untuk di jadikan sebuah
paragraf.
Entah
berapa harga yang ditawarkan sehingga mereka membunuh prinsip dan norma
tersebut, atau bahkan mereka tidak menyadari mereka telah melukai prinsi dan
norma itu, membiarkan lukanya membusuk dan mati.
Mengapa
tidak mencoba untuk menghela nafas perlahan dan menatap diri, lihatlah
bagian-bagian dari kehidupan ini terluka, cobalah untuk sekedar membersihkan
luka tersebut dengan kerendahan hati dan memberikannya harapan untuk sekedar
menikmati matahari pagi dan indahnya senja di sore hari. Apakah terlalu sulit
untuk melepaskan kesombongan dan keegoisan diri, “ merendahlah untuk kehormatan, jangan merendah untuk meninggi, karena
pada hakikatnya kita diciptakan oleh Sang Maha Tinggi”
0 komentar