Lihat dan Berproseslah

By Rahmat Syatra M - Juni 27, 2017


Selamat Sore Senja di barat ibu kota, titip salamku untuk Semua  orang-orang yang mencintai dan membenciku. Semoga mereka senantiasa dalam kasih sayang sang Maha Segalanya.

Seperti biasa sejak Tahun ke 3 Syawal di Perantauan Pada tanggal 3 Syawal pada Syawal ke 3 Pukul 3 Sore, aku masih tetap aku yang lama hanya saja sedikit pernak-pernik dan sebahagian nikmat sudah Tuhan hadirkan setiap Tahunnya (Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta). Dan mungkin walau limpahan itu selalu bertambah pasti ada pula yang hilang dan pergi. Lantas haruskah aku mensyukurinya atau bahkan bersedih atasnya. 

Beberapa hal yang kita tidak mengerti dan tidak mau kita mengerti terkadang menjadi bumerang bagi kita sendiri. Termakan kerasnya hati dan rasio yang menjadi-jadi seakan-akan kitalah pengambil keputusan terbaik. Mungkin barangkali benar atau mungkin sesekali itu benar, namun apakah saat memutuskan kita selalu dalam keadaan yang benar dengan hati yang tenang dangan fikiran yang jernih dan dada yang lapang ?
Aku rasa tidak, seorang paling bijak pun pernah dalam kondisi hampa, kosong dan rapuh. 

Hidup dan kehidupan sudah pada dasarnya berputar dan suka tidak suka , mau tidak mau kita harus memakluminya. Perjalanan kehidupan haruslah memiliki bekal dan kesiapan. Kita pasti pernah mendengar, melihat bahkan orang terdekat kita yang tadinya mungkin pandai dalam segala hal namun disuatu ketika ia jatuh, ia terpuruk bahkan enggan untuk bangkit. Sebagian ada pula ada yang enggan bersiap diri untuk masa depannya  "....ayolah kawan kita masih muda..",  " . . yaelah masih lama kali . . " , "... Serius-serius amat . ." dan berakhir dengan " . . wkwkwkwk. . "

Mungkin kalanya kita boleh berada diposisi untuk tidak selalu dirumitkan dengan masalah-masalah dalam kehidupan, ada kalanya kita melepaskan penat, tertawa lepas dan melegakan emosi. Namun itu " ada kalanya " dan tidak selalu. Hakikat Kehidupan adalah Keseriusan, bagaimana kita memaknai begitupula yang kita dapati. Itu nyata kawan jika kita dalam Iman. 

Namun yang ada pada saat ini, " nantilah ", " itu beda urusan ", " beda lagi ceritanya" 
kita sudah terbiasa mempetak-petakkan sesuatu hal bahkan kita sampai lupa mana yang harus dipetak-petakkan mana yang tidak. Tidak mendudukkan sesuatu pada tempatnya, jadi maklumilah jika kita selalu jatuh dan terluka karenanya. 

Cobalah untuk kembali merenungkan kelahiran kita, tumbuh dan berkembang. Jiwa, Fisik dan Iman. 
Jatuh bangun adalah perjuangan masalahnya yang mana yang kita nikmati. 



- Bahkan buah kita tanam sendiri dengan buah yang kita beli ; Kita tahu Nikmatnya - 



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar