Hujan

By Rahmat Syatra M - Juni 30, 2017


Lihatlah sore itu . . .
Begitu indah, kutatap dari pinggir sepi dan duduk memandangi seolah-olah ingin kupeluk senja itu. Aku hanya tersenyum dan masih tetap kupandangi, tak terasa tubuhku perlahan mulai kuyup. Kupejamkan mata dalam kurasakan. .  ini masih hangat, senjanya tetap hangat . . .Yaa setidaknya hujan ini membasuh sepi dalam sendu dan melarutkanku dalam kehampaan.

Perlahan aku beranjak seiring senjapun perlahan pergi meninggalkan hujan.
Tapi . . . sejauhku ku berjalan senjapun hilang sore ini namun hujan masih menari dan membasahi langkahku. Kududukkan kembali perjalananku . . " hujan adakah yang ingin kau bicarakan ?"  tanyaku seiring dinginnya sore ke malam ini.

Hujan tak sehangat saat ia bersama senja, ia begitu dingin dan memucatkan.
Senja sore ini telah hilang , . .  " hujan, apakah engkau merindukan senja ?" tanyaku kembali.
Namun hujan semakin menjadi, aku tuliskan bait-bait rindu pada malam itu bersama hujan.
Kutuliskan sajak dan puisi tentang Rindu pada setiap rintik hujan dan . . . perlahan hujan reda sembari kubisikkan . . . .

Hujan . . .
Cukupkanlah sedihmu . . 
Mari kita bercerita  
Ceritakanlah kisahmu bersama senja 
Bagaimana kau dan senja begitu mesra dan menghangatkan 
Bagaimana kau bisa bertahan kala senja meninggalkanmu
Bagaimana kau bisa begitu setia dalam gelap malam tanpa senja

Hujan . .
Taukah engkau
Saat ini aku sedang berlari dari rindu
Mengapa ?
Rindu ini sudah terlalu dalam 
Entah dimana letaknya 
Aku tak dapat melepaskannya

Hujan . .
Aku telah menulis bait-bait rinduku padamu
Jika engkau bertemu dengan mereka yang kurindu
Basahilah mereka dengan rinduku
Agar mereka tahu betapa hangatnya Rinduku meski dalam Hujan . . . .


• Hujan telah reda, Tapi tidak dengan Rinduku •

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar