Perkara Islam. .
By Rahmat Syatra M - September 01, 2017
Bismillahirrahmanirrahim
Ilahi Anta Maqsudi Waridhaka Matlubi
Belakangan ini media sosial mendominasi semua elemen sosial kehidupan manusia. Mulai dari jual beli, pendidikan bahkan Agama semua dapat diakses melalui sosial media. Hal ini tidak dapat dipungkiri, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sangat memeberikan pengaruh besar dalam sejarah perkembangan umat manusia.
Hari demi hari iptek semakin berkembang, kebijakan tata kelola negara deperbarui, konstitusi negara diamandemen demi memberikan kebijakan yang merata dan adil, kota-kota di setiap daerah mulai membangun untuk berkembang, kurikulum pendidikan tahun demi tahun dievaluasi demi mewujudkan manusia yang cerdas dan . . . . . Islam tetap pada hukumnya dan masih menjadi Agama.
Namun akhir-akhir ini, ada sesuatu yang mengkhawatirkan, para ustadz-ustadz, pakar hadist, pakar tafsir yang tersebar di media sosial, majelis-majelis semuanya Islam namun tidak berdiri atas KeIslamananya (Na’udzubillah tsumma na’udzubillah) . . . Berdebat satu sama lain, saling menyalahkan , saling menggolong-golongkan, saling menuduh sesat, Entah apa yang salah, 1 kasus beda penafsiran beda penjabaran beda dalil dan sebagainya.
“(Yaitu) orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (Q.S. Ghafir : 35).
Begitu pula, Rasulullah saw bersabda, ““Jangan berdebat dengan suadaramu, jangan bergurau dengannya (yang tidak pada tempatnya), dan jangan menjanjikan sesuatu yang akan engkau ingkari.” (H.R. Turmudzi).
Beliau juga bersabda, “Suatu kaum tidak akan sesat setelah beroleh petunjuk, kecuali lantaran mereka berdebat.” (H.R. Ahmad)
Miris sungguh miris, sosial media merupakan medianya para manusia mencari informasi terutama anak muda yang sedang dalam gejolaknya berapi-api dalam mencari informasi. Jika hal itu tentang politik, negara , ekonomi dan lain sebagainya mungkin tidaklah terlalu jadi masalah (perkara islam) namun jika dilihat dari kacamata Islam . . . ini sungguh menajadi masalah, ketika pemuda/i awan mendengarkan ustadz A dengan tausiahnya . . . .. . . .. kemudian Pemuda/i lainnya mendengarkan Ustdz B dengan tausiaah yang sama dan dengan isi yang berbeda, kajian yang berbeda, bahkan intinya berbeda, ketika pemuda-pemuda ini bertemu mereka akan berdebat dengan arugment ustadz/hnya masing-masing hingga terpecah belahlah para pejuang Islam muda ini (Na’udzubillah tsumma na’udzubillah).
Aku bukanlah siapa-siapa, mengenal agama hanya dari Ayah, hal pokok yang diajarkan ayah adalah bagaimana untuk selalu rendah hati dan bagaimana menjaga hati.
" Setinggi-tinggi ilmu tapi hatimu rusak maka kamu akan disesatkan oleh ilmu itu sendiri, sekalipun itu ilmu Agama itu bisa menjadi hijab atara kamu dan Allah "
Bukan menuduh atau menfitah, adakalanya kita sudah keterlaluan dalam "merasa", merasa benar, merasa golongan yang paling baik, merasa sudah menjadi ahlinya Islam, dan lain sebagainya. Islam adalah bekal kematian bukan sekedar kajian ilmu pengetahuan.
Bukan menggurui, hanya pesan saja sebagai santri ilahi ; Cobalah untuk melihat kedalam hati yang paling dalam adakah Allah disana, cobalah rasa di Qolbu-mu adakah Nur bercahaya disana, cobalah dengar takbirmu adakah khusu' disana, ataukah sepi disana terlalu gelap dan resah dalam hati .. ?
Zaman semakin lama semakin jauh dari peradaban Islam setidaknya kita masih beradab atas Islam, La haula wala quwwata illa billah.Semoga kita senantiasa diberikan petunjuk dan jalan yang lurus untuk mencapai keridhaan Allah SWT. Aamiin.
Zaman semakin lama semakin jauh dari peradaban Islam setidaknya kita masih beradab atas Islam, La haula wala quwwata illa billah.Semoga kita senantiasa diberikan petunjuk dan jalan yang lurus untuk mencapai keridhaan Allah SWT. Aamiin.
0 komentar