Peran ?
Ada suatu cerita.
Saat dimana kita menjalani kehidupan ini sebagai seorang Pecinta, menghiraukan semua kicauan-kicauan dunia. Berlaku sesuka rasa, megikuti alur setiap sentuhan.
Aku tidak begitu memahami dan mengerti bagaimana menerjemahkannya. Entah aku yang memang jauh dari wadahnya atau tidak ada tempatku diwadah itu. Setiap kali aku menjalani peran ini, aku tak pernah sama dengan para pecinta lainnya. Mereka berlarian menari dan tertawa..... tertawa ??
ah sepertinya mereka sama sepertiku, tak sadar atas kekonyolon mereka sendiri
Lantas apa yang membedakannya ?
pada bait terakhir aku berjumpa sang Raja, aku berlisan manis
Jalan hidupku adalah menjadi seorang Pecinta.
Nah . . . jika mereka berperan, maka tidak denganku.
Aku tidak memerankan diri sebagai pecinta, Pecinta bagiku adalah jalan hidup.
Dimana aku melihat, mendengar sembari mencintai semua yang terbentang atas sang Pencipta.
Berperan sebagai seorang "Pecinta" sangatlah lancang, bermain-main dengan Rasa, menghujat Rindu, mencaci tangis.
. . . . .jangan tidakkah kamu lihat diluar sana ? diluar ego dan lantang teorimu ada rumah yang hancur lebur. Berisi puing-puing senyuman, harapan dan mimpi.
benar pribadi tumbuh atas tanah mereka masing-masing, dengan pupuk dan hama yang berbeda.
Tapi bukankah kita berdiri atas hujan yang sama ?
Jika benar begitu mengapa memainkan peran itu ? masih menikmati diri dalam peran sebagai pecinta menari-nari berlari tertawa diatas tunas benih-benih "Rasa".
Lihatlah.... setelah hujan reda, setelah peran dan skenario "Pecinta" usai,..
Lalu hilang tertimbun Tanah.
Karena saat kamu datang bersama matahari, semua telah hancur melebur menajadi debu.
Harus seperti apa ?
Jadilah bukan Berperanlah.
0 komentar