Mengemas Rasa

By Rahmat Syatra M - April 21, 2018


          Minggu yang sama seperti minggu kemarin, bulan yang sama seperti bulan-bulan berlalu, hari yang sama seperti hari-hari yang sudah terlewati, waktu yang berlalu kusimpan utuh, dalam rasa dan kegundahan yang sama, dalam kerinduan yang sama, dalam keinginan yang sama , dalam rajutan mimpi serta angan-angan yang sama. Aku tidak merubah atau bahkan menguranginya sama sekali, rasa dan semua mimpi-mimpiku .. bersamamu.
       Sedikit saja, aku ingin bercerita bagaimana aku sekarang dan sebelum ini. 
Aku pergi meninggalkan, membiarkanmu dalam lelah dan gundahmu .. sendiri, dimana saat kamu harus berjalan dan sesekali berlari untuk tetap kuat melewati hari-harimu.... sendiri, aku berlalu seoalah aku tak peduli dan acuh terhadap masalah yang sudah kita lewati, seperti itu semua adalah penyelesaian tanpa penyesalan.

Tidak....tidak seperti itu, aku tidak benar-benar mengenalmu saat itu dan mungkin kita tidak terlalu mengenal setelah semua yang telah  kita lalui. Selalu saja tidak tepat membawa rasa, benini salah begitu salah, dan kita hanya diam dalam simpul senyum. Aku fikir kita tidak benar-benar melalui hari-hari itu, yang kita tahu adalah semua baik-baik saja. Seperti tidak ada masalah dan pada akhirnya kita terbentur pada luapan emosi yang terlalu egois. Hingga "rasa" terabaikan, rindu terlupakan, mimpi-mimpi hilang seketika berlalu memudar. . . . ketika itu.

     Hanya menghitung hari,......semua kembali "rasa" itu kembali membabi buta, rindu yang menggebu , mimpi dan angan semakin menuntutku untuk sekedar "menyapamu". 

Aku tahu aku terlalu bersalah, aku juga tahu mungkin aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa, aku juga tahu aku tidak tahu diri, merusak menghancurkan meninggalkan lalu kembali seperti tidak terjadi apa-apa sedang kamu terlalu terluka. Maaf . . . .
Aku hanya bingung kemana aku membawa rasa dan harapan ini, semua masih sama, utuh tidak berubah sema sekali bahkan semakin kuat. Sekali lagi aku terlalu tidak tahu diri. Maaf...
Dan saat ini, setiap harinya aku hanya duduk bersama ketakutan dan kekhawatiranku atas rasaku sendiri. Menunggumu bercerita tentang masa depan nanti akan seperti apa. Dan duduk menunggu seperti ini kadang sangat melelahkan, berangan-angan dengan sapa dan senyummu, bermimpi dengan tawa candamu . . . Maaf jika aku terlalu mengebu-gebu

Kamu juga tidak perlu khawatir atas apa yang akan kamu putuskan, apapun itu akan sangat menghargainya. Baik ataupun buruk aku yakin dan percaya itu adalah keputusanmu yang terbaik. Entah keputusan itu sesuai dengan harapku atau tidak, entah itu akan seperti apa, aku akan selalu siap.
Dan jika memang kamu harus pergi dari rasaku ini dan tak menginginkannya ... akupun tak mengapa, aku akan mecoba berdiri tetap tegak dan bersuara lantang , aku akan mencoba untuk menjadi teman terbaik untukmu bahkan jika kamu sedang memperjuangkan seseorang yang sangat kamu inginkan, aku akan selalu mendukungmu. Dan hingga saat itu tiba izinkan aku berpamitan pergi, aku akan mecoba merapikan dan Mengemas Rasa ini, tumpukan-tumpukan rindu dan mimpi-mimpi ini akan kusimpan rapi, semua tentangmu dan hari-hari yang telah kita lewati akan menjadi barisan-barisan tulisan indah yang mungkin cukup untuk menghiburku diperjalanan nanti.

kurang lebih seperti itu,.... bagaimana nantinya sampai detik ini aku masih
Berharap Aku Bisa Bersamamu dan Memilikimu  .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..



 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar