Nah
By Rahmat Syatra M - Februari 15, 2017
“Lalu aku harus bagaimana . . . .
.”
Pernah melihat kesini ? pernah
memperhatikan ? pernah mendengar Seperti apa ? jika belum coba lihat sebentar
saja dan coba perhatikan dan dengarkan, aku hanya ingin bercerita sedikit malam
menuju pagi ini. Cerita ini sesungguhnya amat sangatlah panjang, tidak semua
nyata beberapa bagian cerita ini adalah karangan belaka yang ku rangkai untuk
memperindah sambutan-sambutan pada tokoh dalam cerita ini.
Aku adalah sosok yang sangat kaku
bahkan terlalu kaku dalam pandangan, jika memandang sesuatu aku akan sangat
susah untuk mengalihkan pandanganku, ketika aku memandang kehidupan,
kebahagiaan, kesedihan, kebohongan, ketulusan, dan banyak hal lagi yang
terkadang menarik bahkan membuatku semakin penasaran, aku tidak bisa
mengalihkannya sekalipun bisa itu pun sangat susah.
Lalu mengapa demikian ?
Setiap hal yang kupandang juga
kurasakan, aku memandang kebahagiaan maka aku merasakan kebahagiaan. Begitu juga
ketika aku memadang kesedihan maka aku merasakan kesedihan.
Baperan ? 😂
Dalam hal ini aku terkadang serba
salah, hidup dengan zaman dimana moralitas hanya sebagai hiasan sosial yang tidak
berada pada tempatnya lagi, membuatku
bertanya
“Lalu aku harus bagaimana. . .?”
Pernah ada suatu pertanyaan
ketika prinsip-prinsip sosial ditentang seperti ;
-
“tidak punya perasaan ?”
-
“manusia bukan sih ?”
-
“tega amat ?”
-
“yaelah baperan amat”
-
Dsb
Itu hanyalah sebagai kecil
penyelewengan arus komunikasi dalam lingkungan sosial, khususnya lingkungan
saat ini. Dimana ketika orang-orang melibatkan perasaan dianggap “baperan”
sedang ketika merasa tertindas berkata “tidak punya perasaan”. Itulah adalah
hal yang terkadang membuatku harus mengarang dan membuat simpul tawa dan senyum
singkat untuk menutupi kekecewaanku.
Apa yang salah dengan perasaan,
apa yang salah dengan sebuah rasa ? cobalah untuk melihat dan merasakan. Dengan
begitu mungkin semua akan lebih baik, walaupun tidak semuanya membaik
setidaknya kita sudah mecoba untuk lebih baik. Mencoba memahami dan mengerti bagaimana
jika menjadi orang lain, memposisikan diri ditempat yang terkadang tak pernah
kita inginkan.
Karena rasa sudah terlalu lelah
mengejar untuk dilihat dan diperhatikan juga dirasakan. Karena merasa bukan
sekedar ikut menangis ikut bahagia, tapi rasa ingin dipahami dan dimengerti. Jika
ingin bahagia dan membahagiakan “pandai-pandailah
merasa”.
0 komentar