“ Tidak Mengapa “

By Rahmat Syatra M - Februari 15, 2017



Mungkin ini adalah lirik terbaik yang mungkin dianggap paling cocok untuk menjadi penghias hari-hari yang dimulai. Namun ada beberapa kisah yang mungkin tidak dapat disamakan, ada beberapa momen yang tidak terjadi, bahkan hal yang sangat berbeda yang saat ini dijalani. Pada awalnya mungkin rasa yang hadir sama kisah berjalan mungkin lebih bahagia.
Namun, pada setiap bait lagu tidak semua hal sama dengan sebelumnya, jika harus sama maka ada kisah yang mungkin masih tertinggal dan tidak dapat ditinggalkan, mulai dari lirik awal dimana lirik demi lirik meceritakan semua kisah hingga menjadi rima yang padu bersama nadanya.

Larut terbawa alunannya dan hanyut dalam setiap makna dalam liriknya. Pada saat itulah kisah berjalan berbeda, jika saat ini malam, saat mata terpejam bukanlah bulan nan indah dalam bayang namun matahari pagi yang terbayangkan, berlari dipinggir pantai menyambut dan tersenyum menatap matahari pagi penuh tawa, cinta dan bahagia. Namun saat lirik terhenti mata terbuka, bulan berharap ia disambut dengan hal yang sama bahkan ia ingin disambut lembih ramah. Apa daya mata sudah mulai sayu hanya simpul senyum sederhana tanpa makna diberikan sebagai tanda sapaan. 

Begitu juga hari-hari berikutnya, mungkin jika saat matahari menjumpai akankan bulan akan dilupakan yang begitu tulus berusaha memberikan cahaya indahnya yang menghangatkan hati ? yaa mungkin saja, bukankah matahari bersinar lebih terang dia tidak hadir dalam dingin malam, tentu cahaya nya lebih indah dan menghangatkan. 

Terdengar sangat pecemburu sang bulan, dia sangat mencintai dan menyayangi. Namun sepertinya matahari memang lebih dulu mengenalnya dan membuatnya jatuh hati. Bukan seperti bulan yang memohon cinta dan sayang. Mungkin matahari sekalipun pergi akan selalu dirindukan dan dinantikan, bukan seperti bulan hanya hiasan malam dan mungkin dilupakan.

Lagu yang sama . . . . kisah yang berbeda dan perasaan pun berbeda. Entah bagaimana jika matahari itu kembali akankah bulan akan perlahan-lahan hilang. Akankah semuanya menjadi sia-sia, karena lagu yang sama ia putarkan untuk bulan dan tentu sebelumnya lagu itu telah ia dengarkan bersama matahari.

“ Untukmu bulan, tetaplah bersinar dengan terang dan tetaplah terangi dan hangatkan hatinya
Jangan biarkan ia bersedih, jangan biarkan ia terluka, jangan biarkan ia kecewa.
Jika suatu hari ia kembali berjumpa dengan mataharinya, 
lepaskan dia dan biarkan ia bahagia , tidak perlu bersedih bulan karena
 Tuhan telah menunggumu di singgasananya”
-Mak Petang-

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar